Itsar: Puncak Kedermawanan Tertinggi dalam Kajian Ihya’ Ulumuddin

Kajian Tasawuf Kitab Ihya' Ulumuddin oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi
Kajian Tasawuf Kitab Ihya' Ulumuddin oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Ketika dunia semakin mendorong kita untuk berfokus pada diri sendiri, sebuah kajian mendalam yang digelar oleh Masjid Riyadh Solo pada 13 November 2025 mengingatkan kembali pada puncak kemuliaan budi pekerti: Itsar. Dalam Majelis Salaf Rouhah Siang Kajian Tasawuf Kitab Ihya’ Ulumuddin yang dibawakan oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi, para jamaah diajak meneladani sifat mengutamakan orang lain di atas kepentingan pribadi, sebuah akhlak yang dipuji langsung oleh Allah SWT. Kajian ini menyoroti bahwa kedermawanan sejati tidak hanya sebatas memberi, melainkan terletak pada kesediaan berkorban saat diri sendiri pun berada dalam kekurangan.

Pembahasan dimulai dengan membedah sifat Sakhawah (kedermawanan), sebuah akhlak terpuji yang memiliki beragam tingkatan. Sakhawah umum adalah memberikan harta yang tidak terlalu dibutuhkan oleh pemberi. Namun, derajat tertinggi dari kedermawanan ini bukanlah sekadar memberi, melainkan Al-Itsar.

Itsar didefinisikan sebagai tindakan mendermakan harta atau memberikan sesuatu kepada orang lain secara cuma-cuma, padahal diri sendiri sangat memerlukan hal tersebut (maal hajati ilaihi). Ini adalah bentuk pengorbanan yang paling berat, karena melibatkan pengekangan keinginan dan kebutuhan pribadi demi kebahagiaan orang lain.

Sifat Itsar berlawanan mutlak dengan Bukhl (kekikiran). Kekikiran ekstrem digambarkan sebagai sifat menahan harta bahkan untuk kebutuhan diri sendiri, seperti enggan berobat karena khawatir mengeluarkan uang, sebagaimana dicontohkan dalam kisah orang bakhil yang menahan uangnya meskipun menderita sakit.

Menurut Imam Ghazali, tidak ada derajat keutamaan yang lebih tinggi setelah Itsar. Derajat ini memastikan pengampunan dan keridaan dari Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapapun orangnya yang bila orang tersebut menginginkan sesuatu, lalu ditolaknya keinginan itu dan ia kemudian mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, diampuni dosanya oleh Allah.”

Kemuliaan Itsar diabadikan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Hasyr: 9) ketika Allah memuji Kaum Anshar. Mereka adalah orang-orang yang mengutamakan Kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, padahal mereka sendiri berada dalam keadaan susah, terjepit, dan sempit hidupnya. Itsar inilah yang mengikat persaudaraan abadi di antara dua kelompok sahabat mulia tersebut.

Salah satu kisah ikonik Itsar terjadi ketika seorang tamu datang kepada Rasulullah SAW, namun di rumah Nabi tidak ada makanan yang bisa disuguhkan. Seorang sahabat Anshar datang dan membawa tamu tersebut ke rumahnya, berjanji untuk menjamu.

Sesampainya di rumah, sahabat Anshar itu hanya memiliki makanan dalam porsi terbatas untuk keluarganya. Ia pun meminta istrinya mematikan lampu saat hidangan diletakkan di depan tamu. Dengan berpura-pura ikut makan, ia memastikan tamunya makan hingga kenyang, sementara ia dan istrinya menahan lapar. Keesokan harinya, Rasulullah SAW memberitahu sahabat itu bahwa Allah SWT telah takjub melihat perbuatan mereka, dan ayat tentang Itsar pun turun.

Kisah lain datang dari Sayyidina Abdullah bin Ja’far, yang melihat seorang budak pekerja kebun yang hanya memiliki jatah beberapa potong roti. Budak tersebut membagi habis rotinya kepada seekor anjing kurus yang datang dari tempat jauh, karena ia tidak tega anjing itu pulang dalam keadaan lapar.

Ketika ditanya mengapa ia mengutamakan seekor hewan daripada dirinya sendiri, sang budak menjawab bahwa tanah itu bukanlah tempat yang biasa dilewati anjing, dan ia tidak ingin menolak makhluk yang datang dalam keadaan lapar. Sayyidina Abdullah bin Ja’far yang kagum, kemudian membeli dan memerdekakan budak tersebut, sekaligus menghadiahi budak itu kebun yang ia kerjakan.

Contoh agung Itsar juga diperlihatkan melalui Kepala Kambing yang Berputar di antara para sahabat. Ketika Sayyidina Umar mengirim hadiah kepala kambing kepada seorang sahabat, sahabat itu mengirimkannya ke sahabat lain yang ia anggap lebih membutuhkan. Kepala kambing itu berputar dari satu rumah ke rumah yang lain hingga tujuh rumah, karena semua sahabat tersebut lebih mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri. Puncak Itsar lainnya adalah tindakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang rela tidur di tempat tidur Nabi saat Hijrah, mengorbankan nyawanya demi keselamatan Rasulullah SAW.

Itsar, sebagaimana ditegaskan Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi dalam kajian, adalah akhlaqillah (akhlaknya Allah). Dengan memiliki akhlak ini, seseorang mendapatkan kemuliaan dan kedudukan yang agung di sisi-Nya, bahkan melebihi derajat yang ditunjukkan kepada Nabi Musa AS. Itsar adalah jalan untuk diampuni dan ditempatkan di surga sesuai dengan keinginannya, karena Allah sendiri malu untuk menghisab amal hamba yang berakhlak Itsar.

Sumber :  Majelis Salaf Rouhah Siang Kajian Tasawuf Kitab Ihya’ Ulumuddin oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi

E-Buletin