KabarMasjid.id, Malang – Mencintai Allah adalah puncak tertinggi dari perjalanan spiritual setiap hamba. Namun, bagaimana cara seorang hamba memastikan bahwa cintanya berbalas, dan dosa-dosanya diampuni? Pertanyaan mendasar ini menjadi inti bahasan dalam Kajian Rutin Jumat Bada Shubuh 14 November 2025 yang disampaikan oleh KH. Achmad Mudjayyid di Masjid Agung Jami Malang, Jawa Timur. Beliau memaparkan bahwa jalan menuju cinta Illahi tidak rumit, melainkan membutuhkan dua kunci utama: meneladani Rasulullah dan memahami esensi dari sebuah amal kebaikan.
KH. Achmad Mudjayyid menjelaskan bahwa Allah telah memberikan rambu-rambu yang jelas. Mengutip kalimat “Fattabiuni yukbibkumullah wa yaghfir lakum,” Kiai menegaskan bahwa jika kita benar-benar mencintai Allah, maka kita harus mengikuti (sunah) Nabi Muhammad. Ketaatan inilah yang akan menjadikan seorang hamba dicintai-Nya, dan jika sudah dicintai, maka ampunan (maghfirah) akan diberikan.
Untuk memperkuat poin ini, KH. Achmad Mudjayyid menyajikan sebuah filsafat kehidupan yang dikemas dalam sebuah perumpamaan. Ia berkisah tentang seorang Lurah yang sangat membenci tetangganya, seorang wanita bernama Yumar Kuat, karena seringnya fitnah yang ia dengar. Di mata Lurah, tidak ada orang yang lebih jahat di dunia ini selain wanita tersebut.
Suatu hari, anak Lurah yang sangat disayangi mengalami kecelakaan parah. Dalam keadaan terluka dan terpuruk, sang anak terperosok ke dalam got (selokan) yang airnya deras. Tak ada orang lain yang melintas dan menolong, kecuali Yumar Kuat, wanita yang dibenci oleh Pak Lurah.
Yumar Kuat tanpa ragu langsung menggendong anak itu, membawanya ke Puskesmas, dan menanggung seluruh biaya pengobatan, termasuk suntik serum dan resep dokter yang totalnya mencapai ratusan ribu. Ketika Lurah menemukan anaknya sudah di rumah dalam kondisi tertolong dan tertidur, hatinya langsung luluh.
Melihat pengorbanan dan keikhlasan Yumar Kuat, pandangan Lurah berubah 180 derajat. Kebencian yang bertahun-tahun ia pelihara runtuh seketika, dan ia merasa seakan-akan tidak ada orang sebaik Yumar Kuat di dunia ini. Ia kemudian membelikan martabak Malvinas—makanan kesukaan Yumar—sebagai hadiah dan permintaan maaf.
Dari kisah ini, Kiai Mudjayyid menegaskan bahwa Allah SWT jauh lebih baik dan lebih pemaaf daripada manusia. Jika satu perbuatan baik saja mampu merontokkan kebencian manusia, maka satu amal saleh yang tulus, yang “menyentuh perasaan Allah,” akan mampu menggugurkan seluruh dosa. Ini sejalan dengan kisah seorang hamba yang memberi minum seekor anjing sekarat di padang pasir, lalu dijamin masuk surga.
Pembahasan kemudian berlanjut ke filsafat tentang kematian, atau Aksiru Zikrul Mauti (sering mengingat mati), yang sering disalahartikan sebagai jalan menuju stres atau putus asa. Kiai meluruskan bahwa mati bukanlah akhir, melainkan sebuah perpindahan alam.
Kematian adalah proses pemisahan jasad dari ruh. Jasad kembali ke alam tanah, sementara ruh akan masuk ke Alam Ruh, yang merupakan Alam Makrifat. Di alam inilah hakikat seorang hamba akan ditunjukkan, apakah ia akan berujung di surga atau neraka.
Oleh karena itu, seluruh pekerjaan lahiriah dalam ibadah harus dimasukkan ke dalam batin atau hati. KH. Achmad Mudjayyid menekankan, “Hatilah yang bisa komunikasi dengan Allah.” Inilah yang menjadi landasan ilmu tariqah, di mana tatanan hati lebih penting dari tatanan otak.
Tujuan utama salat adalah masuk ke Alam Makrifat, sehingga dibutuhkan khusyuk yang sesungguhnya. Begitu pula dengan zikir, yang harus dilakukan secara terus-menerus (tidak terputus) dalam keadaan apapun—berdiri, duduk, atau bahkan berbaring—melalui zikir sirri (zikir batin). Jika ibadah hanya memenuhi syarat syariat (fisik) tanpa hati, seorang hamba harus waspada terhadap ancaman Fawailul lil mushollin (Celakalah bagi orang-orang yang salat).
Sebagai penutup, KH. Achmad Mudjayyid mengisyaratkan bahwa materi tentang Aksiru Zikrul Mauti yang menjadi pintu menuju Alam Ruh ini akan dibahas lebih tuntas pada pertemuan Jumat yang akan datang, menekankan pentingnya ilmu dan pemahaman agar ibadah tidak hanya menjadi rutinitas tanpa makna.
Sumber: Kajian Rutin Jum’at Bada Shubuh 14 November 2025 yang disampaikan oleh KH. Achmad Mudjayyid di Masjid Agung Jami Malang