3 Macam Kerusakan Syirik yang Menghancurkan Tatanan Bangsa

Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan
Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan

Bagikan postingan :

KabarMasjid.Id, Surabaya – Pernahkah terbesit dalam pikiran kita, apa sebenarnya biang kerok dari segala kekacauan dan kemunduran tatanan hidup di tengah masyarakat, bahkan dalam skala bangsa dan negara? Seringkali kita hanya melihat masalah di permukaan, padahal akar permasalahannya—menurut pandangan akidah—jauh lebih mendalam. Hal inilah yang menjadi pembahasan utama dalam kajian Mimbar Dzuhur yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan pada Kamis 6 November 2025 di Masjid Al Falah Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, beliau dengan lugas menguraikan prinsip tauhid yang harus menjadi pegangan teguh umat Islam, serta membedahnya dengan tiga macam kerusakan fatal yang ditimbulkan oleh perbuatan syirik.

Sebagai orang yang beriman, akidah tauhid haruslah menjadi garis prinsip yang tidak boleh sedikit pun bergeser. Ustadz Nadjih Ihsan menekankan bahwa manusia diciptakan untuk suatu tujuan paling prinsip, yaitu menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Ini bukan sekadar perkara sepele, melainkan esensi keberadaan manusia. Gerakan yang dicanangkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah gerakan tauhid murni, yang diharapkan dapat mencegah terjadinya kerusakan di tengah masyarakat.

Tujuan penciptaan alam, termasuk di dalamnya tata surya dan benda-benda mati, adalah untuk beribadah kepada Allah saja—seperti kaidah yang dijelaskan, “khalaqallahul alam li’ibadatihi wahdahu”. Segala sesuatu di dunia ini tunduk pada kehendak-Nya. Namun, khusus bagi manusia, Allah SWT tidak hanya menciptakan dan memberi rezeki, tetapi juga mengurus dengan sempurna.

Pengurusan ini dilakukan dengan mengutus para rasul dan membekali mereka dengan Al-Kitab, sebab manusia memiliki akal, nafsu, serta potensi untuk menjadi baik maupun sejahat-jahatnya makhluk. Oleh karena itu, Kitab diturunkan agar dijadikan referensi hukum, sekaligus dasar dalam mengatur kehidupan. Inilah penegasan bahwa hukum yang paling sahih dan adil adalah milik Allah (inil hukmu illa lillah).

Konsekuensi dari ketaatan pada rasul sangat jelas: siapa yang menaati rasul, ia masuk surga (faman ato’ahu dakolal jannah). Sebaliknya, siapa yang tidak taat, ia masuk neraka. Hal ini merupakan otoritas mutlak Allah, yang memiliki surga dan neraka, dan yang telah memberikan panduan hidup yang lengkap melalui Rasul-Nya.

Lebih lanjut, Ustadz Nadjih Ihsan menjelaskan tentang sifat alam yang berserah diri kepada Allah—baik secara terpaksa (karha) maupun secara taat (tau’an). Contoh ketundukan yang terpaksa adalah proses manusia menjadi tua, lemah, dan sakit; ini adalah hukum alam yang tidak dapat ditolak. Sementara itu, ketundukan yang taat adalah ketika manusia secara sadar mengikuti akidah dan syariat yang diturunkan, menjadikan tauhid sebagai landasan hidup.

Intinya, Allah SWT dengan tegas tidak rida jika disyirikkan oleh makhluk-Nya, bahkan jika itu disekutukan dengan malaikat terdekat (malakun muqorun) ataupun nabi yang diutus (nabiyun mursalun). Larangan ini didasarkan pada fakta bahwa Allah tidak mungkin melarang sesuatu kecuali hal tersebut tidak diridai-Nya.

Oleh karena itu, syirik harus diperangi dan dibasmi. Ayat Al-Qur’an memerintahkan, “waqatiluhum hatta la takuna fitnah”—perangilah mereka sampai tidak ada fitnah; dan dalam konteks ini, fitnah dimaknai sebagai syirik. Syirik adalah penyebab rusaknya tatanan masyarakat, bangsa, dan negara. Hanya dengan tegaknya tauhid, sebuah masyarakat dapat mencapai kejayaan dan diridai Allah. Pentingnya belajar dan mengajarkan akidah tauhid ditekankan sebagai kewajiban yang harus didahulukan di atas seluruh rukun Islam.

Kerusakan syirik yang pertama adalah mengandalkan perantara dan syafaat yang tidak berdasar syariat, seperti mendatangi makam atau tempat keramat dengan niat meminta pertolongan atau jaminan. Keyakinan sesat ini membuat seorang muslim menjadi malas beribadah maksimal, karena merasa sudah terjamin oleh seorang wali atau mursyid.

Kerusakan yang kedua, syirik menyebabkan retaknya ukhuwah dan memecah persatuan umat Islam. Umat Islam tidak akan pernah bisa bersatu selama akidah mereka retak dan tidak kembali pada tauhid yang murni, yaitu menyembah Allah saja, tidak meminta kepada orang yang sudah meninggal, dan tidak menyembah berhala.

Kerusakan syirik yang terakhir dan paling fatal adalah terancamnya seseorang masuk neraka, karena orang yang meninggal dalam keadaan membawa dosa syirik—yang belum sempat ditobati—syafaatnya akan tertolak. Ustadz Nadjih Ihsan mengingatkan bahwa syafaat Nabi Muhammad SAW hanya akan diberikan kepada siapa saja yang mati dalam keadaan “la yusyriku billahi saaian” (tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun).

Dengan demikian, tauhid adalah asas dan kunci bagi kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat. Tidak ada pilihan lain bagi umat Islam selain kembali menguatkan dan memurnikan akidah tauhid, sebab kerusakan yang terjadi di dunia adalah buah dari penyimpangan syirik. Semoga kita semua diberikan rahmat dan hidayah untuk senantiasa hidup di atas jalan tauhid.

Sumber: Kajian Mimbar Dzuhur oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya.

E-Buletin