KabarMasjid.id, Surabaya – Pada hari Jumat, 7 November 2025, Masjid Al Akbar kembali menjadi saksi atas siraman rohani yang mendalam melalui khutbah bertajuk “Hakikat Tawakkal” yang disampaikan oleh ulama terkemuka, KH. A. Dzulhilmi Ghozali. Dalam kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian dan tantangan, konsep Tawakkal—sebuah pilar keimanan yang sering disalahpahami—hadir sebagai kunci untuk meraih ketenangan sejati. Tulisan ini merangkum intisari dari ajaran Tawakkal sebagai panduan bagi setiap Muslim untuk menavigasi kehidupan dengan hati yang tenteram, sebuah konsep yang melampaui kepasrahan pasif, menuju penyerahan diri yang aktif dan penuh makna.
Secara bahasa, Tawakkal berarti menyerahkan atau mewakilkan. Dalam terminologi agama, Tawakkal adalah penyandaran hati secara total kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam meraih kemaslahatan dan menolak kemudaratan, baik urusan dunia maupun akhirat. Ini bukan sekadar ucapan lisan, melainkan sebuah aksi hati yang tulus, mengakui bahwa tidak ada daya dan upaya selain dari kekuasaan Allah semata.
Seringkali terjadi kesalahpahaman bahwa Tawakkal adalah sikap menunggu hasil tanpa melakukan usaha. Padahal, Tawakkal dan Ikhtiar (usaha) adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Ikhtiar adalah perintah syariat, sementara Tawakkal adalah amalan hati yang mengiringi. Mengabaikan ikhtiar sama saja dengan menentang sunnatullah, dan berikhtiar tanpa Tawakkal adalah kesombongan karena meyakini hasil hanya bergantung pada usaha diri sendiri.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengajarkan pentingnya menambatkan unta sebelum bertawakkal. Maksudnya, setiap Muslim wajib mengerahkan segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, merencanakan dengan matang, dan bekerja keras sesuai kapasitasnya. Tahap inilah yang disebut ikhtiar, sebuah proses pembuktian kesungguhan dan ketaatan seorang hamba.
Hakikat dari Tawakkal baru terwujud setelah seluruh ikhtiar dikerahkan. Di titik inilah hati melepaskan ketergantungan pada hasil usaha, karena menyadari bahwa hasil akhir (sukses atau gagal) sepenuhnya berada di tangan Allah. Penyerahan total ini membebaskan jiwa dari belenggu obsesi duniawi dan rasa takut akan kegagalan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam banyak ayat Al-Qur’an, salah satunya yang berarti: “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)nya.” Ayat ini memberikan jaminan kebersamaan dan kecukupan dari Sang Pencipta bagi siapa pun yang mampu menanamkan sikap Tawakkal yang benar dalam hatinya.
Tawakkal yang sejati adalah indikator dari kesempurnaan iman seseorang. Ia merupakan salah satu maqam (derajat spiritual) tertinggi dalam tasawuf, di mana seorang hamba tidak lagi melihat perantara (sebab akibat) dalam hidup, melainkan langsung melihat kepada Al-Musabbibul Asbab (Dzat yang menciptakan sebab), yaitu Allah.
Dalam urusan rezeki, Tawakkal diwujudkan dengan bekerja mencari nafkah secara halal dan profesional, kemudian hati yakin sepenuhnya bahwa rezeki yang ditetapkan tidak akan tertukar. Kerisauan berlebihan tentang hari esok akan hilang, digantikan oleh keyakinan bahwa Allah, Sang Pemberi Rezeki, tidak pernah lalai.
Ketika musibah atau cobaan datang, Tawakkal menjadi benteng pertahanan mental dan spiritual. Setelah berikhtiar mencari solusi dan berobat, hati menyerahkan segala ketentuan kepada Allah dengan lapang dada. Inilah yang melahirkan sikap sabar dan rida, karena meyakini di balik kesulitan pasti ada hikmah yang terbaik.
Orang yang benar-benar bertawakkal memiliki ciri khas: tenang dalam keadaan sulit, tidak sombong saat berhasil, dan senantiasa bersyukur. Mereka tidak tergesa-gesa dalam meraih sesuatu dan tidak putus asa dalam kegagalan, karena mereka meyakini bahwa semua telah tertulis dan digariskan dengan sempurna.
Tawakkal menumbuhkan keberanian. Ketika seseorang telah menyerahkan hasil kepada Allah, ia tidak takut lagi akan cemoohan manusia atau ancaman kerugian. Ia akan melangkah maju dengan gagah berani dalam kebenaran, karena keyakinan bahwa perlindungan dan pertolongan Allah adalah jaminan terkuat.
Pada akhirnya, Tawakkal bukanlah ajaran pasif, melainkan filosofi hidup yang sangat aktif. Ia mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang gigih dalam berikhtiar, namun lembut dan lapang dada dalam menerima takdir. Marilah kita terus melatih hati untuk menyempurnakan ikhtiar kita, dan setelahnya, sandarkanlah segalanya kepada Al-Wakil, Dzat Yang Maha Mengurus, agar ketenangan abadi menjadi milik kita dalam setiap langkah kehidupan.
Sumber: Khutbah Jum’at di Masjid Al Akbar pada 7 November oleh KH. A. Dzulhilmi Ghozali disiarkan secara langsung di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV