KabarMasjid.id, Solo – Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir yang dibawakan oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi pada tanggal 1 November 2025 di Masjid Riyadh Solo, telah berlangsung khidmad dan sangat mencerahkan. Jama’aj diajak merenungi ayat-ayat Surah An-Nahl, berfokus pada keadilan balasan ilahi dan keharusan untuk bersyukur. Ustadz Ali menekankan bahwa Allah melimpahkan karunia, tetapi juga memberikan peringatan keras: nasib sebuah kaum ditentukan oleh respons mereka terhadap nikmat tersebut. Kajian ini mendesak kita untuk meninjau kembali korelasi antara kesyukuran, kemakmuran, dan kepatuhan syariat.
Ustadz Ali membuka kajian dengan melukiskan potret sebuah komunitas ideal: sebuah negeri yang dianugerahi ketenangan, rasa aman yang mendalam, dan sumber rezeki yang mengalir deras dari segala arah. Ini adalah gambaran dari kehidupan yang dimandikan berkah, di mana kebutuhan terpenuhi tanpa kesulitan besar. Pemberian Tuhan ini adalah bukti pemeliharaan-Nya, sebagai pancingan agar hamba-Nya kembali dengan rasa terima kasih.
Sayangnya, kisah berbelok tajam. Meskipun hidup dalam kemakmuran, penduduk negeri tersebut memilih jalan kekafiran (tidak berterima kasih). Mereka terlena dalam dosa dan melalaikan kewajiban, gagal melihat bahwa semua kenikmatan adalah amanah yang harus dijaga. Pengingkaran inilah yang memicu berakhirnya masa keemasan dan datangnya bencana.
Konsekuensinya amatlah pedih: Allah menarik kembali nikmat ketenteraman yang mereka nikmati, menggantinya dengan “baju” kesengsaraan, yaitu ketakutan (khauf) dan kelaparan (ju’). Ditegaskan bahwa ujian ini tidak eksklusif bagi suatu tempat; ia bisa menjangkiti hati, keluarga, dan kehidupan pribadi siapa pun yang menahan rasa syukur.
Sejarah Makkah di era awal Islam memberikan studi kasus yang nyata. Penduduknya memperoleh karunia tertinggi, yakni kedatangan seorang Rasul dari suku mereka sendiri, Nabi Muhammad ﷺ, yang reputasi dan nasabnya mereka kenali. Ini adalah nikmat spiritual yang jauh melampaui segala harta benda.
Namun, respons mereka justru fatal. Mereka menolak risalah Nabi ﷺ, bahkan melancarkan penindasan dan permusuhan yang melampaui batas. Kezaliman ini berbuah azab yang terwujud dalam kelaparan ekstrem selama tujuh tahun. Kondisi mereka sedemikian parah hingga terpaksa mengonsumsi bangkai dan tulang. Ini menjadi bukti konkret hukuman bagi mereka yang menutup mata terhadap kebenaran yang jelas.
Untuk menjamin keselamatan dan keberkahan, Allah telah menetapkan pedoman konsumsi: memakan yang halal dan thayyib (baik/bermanfaat). Aturan ini merupakan cetak biru kehidupan yang membawa kemaslahatan di kedua alam, sebab Allah, Sang Pencipta, tahu persis mana yang menyehatkan jiwa dan raga kita.
Kepatuhan terhadap aturan makanan ini harus diikuti dengan manifestasi syukur. Energi yang didapatkan dari rezeki halal harus diarahkan untuk menguatkan iman, menjalankan semua perintah Allah, dan menjauhi semua larangan-Nya. Inilah ekspresi ibadah yang tulus, di mana manusia hanya tunduk pada kehendak Penciptanya.
Ustadz Ali kemudian menguraikan larangan-larangan konsumsi yang ditetapkan Allah karena membawa dampak buruk bagi manusia. Daftar haram itu mencakup bangkai, darah, daging babi, dan yang ditekankan, hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Walaupun wujudnya sama, sembelihan yang tidak disucikan nama-Nya dapat meracuni akidah dan batin seseorang.
Peringatan keras juga ditujukan kepada pihak-pihak yang berani mendistorsi hukum agama. Allah mengecam keras kaum musyrik yang dengan sekehendak hati menetapkan status halal atau haram tanpa berlandaskan wahyu. Praktik ini dianggap sebagai kebohongan yang dinisbatkan kepada Allah, dan pelakunya diancam dengan kerugian total di dunia dan akhirat.
Sebagai penutup, kita diingatkan bahwa segala kenikmatan materi di dunia, tak peduli seberapa agung ia terlihat, hanyalah mata’un qalil (kesenangan sesaat) yang sifatnya fana. Harta, jabatan, dan kenikmatan fisik akan lenyap seiring berjalannya waktu dan berakhirnya kehidupan. Kita diperingatkan agar tidak terperosok menjadikan dunia sebagai tujuan utama dengan mengorbankan kebenaran syariat.
Oleh karena itu, pilihan harus jatuh pada kenikmatan yang abadi. Janganlah kita tukar kesabaran dalam ketaatan di dunia—yang sementara—dengan penderitaan kekal di akhirat hanya demi memenuhi hasrat fana. Hanya dengan berpegang teguh pada tuntunan Allah, kita dapat mencapai kebahagiaan sejati yang tak pernah terputus.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi Channel Youtube Masjid Riyyadh Solo