KabarMasjid.id, Solo – Pada sebuah majelis ilmu yang diselenggarakan di Masjid Jami’ Assagaf, Surakarta pada 29 Oktober 2025, Ustadz Umar bin Husein Assegaf menyampaikan kajian umum yang mendalam. Beliau membedah topik fundamental dalam perjalanan spiritual seorang hamba: tantangan hawa nafsu sebagai penghalang utama dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kajian ini merujuk pada pembahasan kritis yang termaktub dalam kitab monumental Minhajul Abidin ila Jannati Rabbil Alamin karya Imam Al-Ghazali.
Menurut Imam Al-Ghazali, musuh utama kita bukanlah entitas dari luar, melainkan nafsu yang bersarang di dalam diri. Secara spesifik, yang paling berbahaya adalah nafsu al-amarah bis-su’—nafsu yang selalu memerintahkan kita untuk melakukan keburukan. Beliau menyebutnya sebagai adorarrul a’da (musuh yang paling berbahaya) dan menyoroti betapa sulitnya penyakit kronis ini untuk diobati, bahkan disebut sebagai bala (musibah) yang paling rumit.
Bahaya nafsu menjadi luar biasa karena dua faktor mendasar. Faktor pertama adalah posisi nafsu sebagai musuh dari dalam (aduun min dakhilin). Ia hidup dan bergerak di dalam hati, pikiran, dan jiwa kita. Inilah yang disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika beliau kembali dari peperangan, beliau bersabda bahwa mereka baru pulang dari Jihad al-Asghar (perang kecil) menuju Jihad al-Akbar (perang besar)—perang melawan hawa nafsu.
Analogi yang tepat untuk menggambarkan kesulitan ini adalah seperti menghadapi seorang pencuri yang tinggal di dalam rumah. Pencuri dari luar relatif mudah dikenali dan dihindari, tetapi pencuri dari dalam memiliki akses ke segala kunci dan rahasia. Dengan demikian, bahayanya menjadi lebih besar, sulit dideteksi, dan lebih berat untuk ditangani, sebab ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita.
Faktor kedua yang membuat nafsu sulit ditaklukkan adalah karena ia adalah musuh yang dicintai (aduun mahbub). Berbeda dengan musuh pada umumnya, nafsu selalu menyajikan kenikmatan, kesenangan, dan jalan termudah dalam hidup. Tidak ada nafsu yang mengajak pada salat malam atau puasa di tengah hari yang panas, melainkan mengajak pada maksiat dan nikmat duniawi.
Kecintaan pada nafsu ini memiliki konsekuensi fatal: ia membuat kita buta terhadap aib (kekurangan) diri sendiri. Seseorang yang menyukai nafsunya akan menganggap dirinya sempurna, atau setidaknya, semua keburukan yang ada di dalam dirinya dianggap wajar dan lumrah. Hal ini berbeda jauh dengan para sahabat mulia, seperti Sayyidina Umar bin Khattab, yang masih mendatangi Hudzaifah ibn Yaman untuk memastikan apakah namanya termasuk dalam golongan orang munafik, menunjukkan sikap merasa kurang dan memusuhi diri sendiri.
Apabila direnungkan, nafsu adalah pangkal dari segala fitnah dan kebinasaan yang terjadi di alam semesta. Imam Ghazali mengajak kita memperhatikan bahwa segala kehinaan, dosa, dan bahaya yang menimpa makhluk, sejak awal penciptaan hingga Hari Kiamat, pasti berakar dari hawa nafsu itu sendiri. Tanpa hawa nafsu, niscaya manusia akan berada dalam keselamatan.
Contoh paling jelas adalah kisah Iblis. Setelah beribadah selama 80.000 tahun, Iblis hancur lebur hanya karena satu maksiat, yang sumbernya adalah nafsu kesombongan (kibruha) dan hasad. Padahal saat itu belum ada setan lain yang mengajaknya, hanya dorongan dari dalam dirinya sendiri yang membuatnya merasa lebih baik (ana khairum minhu).
Selain Iblis, kasus Nabi Adam dan Sayyidatuna Hawa yang jatuh dari surga juga disebabkan oleh syahwat nafsu, yaitu ketamakan (tamak) untuk hidup kekal. Demikian pula kisah Qabil yang berani melakukan pembunuhan terhadap Habil, dasarnya adalah nafsu hasad. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa sepanjang sejarah, nafsu selalu menjadi penyebab utama kehancuran manusia.
Untuk mengendalikan tunggangan kehidupan ini, Imam Ghazali memberikan tiga kunci utama yang harus diterapkan secara terus-menerus. Kunci pertama adalah mencegah syahwatnya (Man’us Syahwat). Kita harus menahan dan tidak menuruti segala keinginan dan syahwat nafsu. Ini dianalogikan seperti mengurangi makanan bagi binatang liar; dengan kelaparan, tunggangan itu akan menjadi lemah dan mudah untuk dipegang atau dikendalikan.
Kunci kedua adalah memberi beban ibadah yang berat (Hamlu Atqalil Ibadati Alaiha) dan kunci ketiga adalah memohon pertolongan kepada Allah (Al-Istianah Billahi Ta’ala). Beban ibadah, seperti memperbanyak zikir, puasa, dan salat malam, akan mengisi waktu luang dan menyibukkan diri sehingga nafsu tidak mendapat kesempatan untuk berbuat maksiat. Sementara itu, memohon pertolongan kepada Allah adalah hal mutlak karena musuh ini terlalu berat untuk dilawan sendiri.
Dengan demikian, kita harus mengingat ucapan Nabi Yusuf Alaihissalam: “Innan nafsa la’amaratun bis-su’i illa ma rahima rabbi” (Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada keburukan, kecuali yang dirahmati oleh Tuhanku). Hanya dengan rahmat dan pertolongan Allah, kita bisa menundukkan musuh batin ini dan menjadikan hawa nafsu sebagai tunggangan yang mengantarkan kita menuju ketaatan dan kedekatan kepada-Nya.
Sumber: Kajian Umum Ustadz Umar bin Husein Assegaf di Channel Youtube MJA Solo