Penyakit Hati Paling Mematikan: Membongkar Bakhil dan Syuhh dalam Perspektif Islam

Kajian Tasawuf Kitab Ihya' Ulumuddin oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi
Kajian Tasawuf Kitab Ihya' Ulumuddin oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Sifat kikir, atau bakhil, bukanlah sekadar aib sosial, melainkan sebuah penyakit hati yang dalam tradisi Islam digolongkan sebagai salah satu dosa yang paling membinasakan. Kekikiran bahkan disebut lebih buruk daripada kezaliman itu sendiri. Bahaya besar ini dikupas tuntas dalam Kajian Tasawuf Kitab Ihya’ Ulumuddin oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi pada Kamis 30 Oktober 2025vdi Masjid Riyadh Solo. Kajian mendalam ini membahas bab Dzammil Bukhli (Tercelanya Sifat Kikir), mengingatkan umat akan ancaman yang dibawa oleh jiwa yang enggan berbagi.

Dalam struktur keilmuan Kitab Ihya’ Ulumuddin, pembahasan mengenai kikir ini dimasukkan ke dalam sub-bab Min Rub’il Muhlikat, yaitu seperempat dari hal-hal yang dapat membinasakan seseorang di akhirat. Pandangan ini menunjukkan bahwa kekikiran tidak hanya menghalangi pahala, tetapi secara fundamental merusak keselamatan jiwa seseorang di hadapan Allah SWT.

Penting untuk dipahami bahwa kedermawanan, atau al-judu, bukanlah hasil usaha semata, melainkan berasal dari sifat kemurahan Allah (Min Judillahi Ta’ala). Artinya, sifat murah hati adalah pantulan dari sifat ilahi yang ditanamkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih, menjadikannya kunci utama untuk meraih rida-Nya.

Dalam sebuah metafora yang sangat kuat, Rasulullah ﷺ menggambarkan kedermawanan sebagai sebuah pohon besar (syajaratun) yang tumbuh di dalam surga, yang akarnya menancap kuat pada pohon Tuba di Sidratul Muntaha. Ranting-ranting dari pohon kemuliaan ini terjulur hingga ke dunia. Siapa pun yang berpegangan pada ranting kedermawanan ini, niscaya akan ditarik dan didorong olehnya untuk memasuki surga.

Sebaliknya, kikir digambarkan sebagai pohon yang tumbuh di dalam api neraka, berakar pada pohon Zaqum. Ranting-ranting kikir juga terjulur ke dunia, dan siapa pun yang bergantung padanya akan digeret dan dicampakkan ke dalam neraka. Hal ini menyiratkan bahwa kedermawanan adalah jalan menuju surga, sementara kekikiran adalah jalan yang pasti menuju murka Allah.

Kekikiran dan keimanan adalah dua sifat yang bertolak belakang dan mustahil berkumpul secara sempurna dalam hati seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sifat kikir adalah bagian dari kekufuran nikmat (kufrun nikmah), dan kekufuran itu tempatnya adalah di dalam api neraka. Oleh karena itu, seorang hamba yang imannya utuh dan sempurna tidak mungkin memiliki sifat kikir yang dominan dalam dirinya.

Ancaman ini bahkan berlaku dalam konteks kepemimpinan. Ketika utusan kabilah Bani Lahyan ditanya oleh Rasulullah tentang pemimpin mereka, mereka menyebut nama Jad ibn Qais. Meskipun kaya, ia dikenal kikir. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada penyakit yang lebih parah daripada kikir.” Ini menunjukkan bahwa seorang yang kikir, meskipun kaya raya, secara moral tidak layak untuk memimpin suatu kaum.

Lebih mengejutkan lagi, Nabi ﷺ pernah menyatakan bahwa “Orang yang pemurah tetapi bodoh (As-Sakhiyul Jahul) itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir (Al ‘Abidil Bakhil).” Betapa pun rajinnya seseorang beribadah, jika ia tetap memeluk sifat kikir, martabatnya di mata Allah bisa jadi lebih rendah daripada seorang yang pemurah namun lalai.

Kekikiran bahkan dinilai lebih tercela daripada orang yang zalim. Rasulullah ﷺ bersumpah, “Demi keagungan Allah, tidak mungkin orang yang bakhil (kikir) masuk surga.” Sumpah ilahi ini menegaskan betapa parahnya sifat kikir, yang dapat membatalkan pahala amal kebaikan dan menjadi penghalang mutlak menuju kenikmatan abadi.

Dalam sebuah kisah dramatis, Rasulullah ﷺ pernah bertemu seorang lelaki yang meratap di Kiswah Ka’bah, mengakui dosanya yang begitu besar hingga melampaui bumi dan langit. Setelah didesak, lelaki itu mengaku bahwa dosanya adalah kekikiran, karena ia menolak pengemis hingga si pengemis takut dan lari. Mendengar ini, Rasulullah ﷺ dengan marah menyuruhnya menyingkir, bersabda, “Jangan kau bakar aku dengan api apimu!”

Puncak peringatan terhadap sifat ini adalah apa yang difirmankan Allah kepada Surga ‘Aden. Ketika Surga Aden telah berhias dengan segala keindahannya, Allah Ta’ala berfirman, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menempatkan orang yang bakhil (kikir) pada dirimu.” Ini adalah penolakan yang paling keras, memastikan bahwa tempat bagi jiwa yang bakhil bukanlah kenikmatan surga.

Oleh karena itu, kajian ini menegaskan kembali bahwa seorang mukmin harus senantiasa waspada terhadap sifat kikir. Dalam terminologi kajian ini, perlu dibedakan antara bakhil (enggan mengeluarkan harta untuk dirinya sendiri) dan syuh (enggan mengeluarkan harta sendiri sekaligus tamak terhadap harta orang lain). Keduanya adalah penyakit jiwa yang harus dibersihkan, karena kekikiran sejatinya adalah kezaliman terbesar terhadap diri sendiri dan penghalang abadi menuju rida ilahi.

Sumber: Kajian Tasawuf Kitab Ihya’ Ulumuddin oleh Ustadz Alwi bin Ali Alhabsyi di Channel Youtube Masjid Riyadh Solo

E-Buletin