KabarMasjid.id, Malang – Majelis ilmu kembali digelar di Masjid Agung Jami’ Kota Malang dalam acara Pengajian Rutin Ba’da Maghrib Hari Rabu pada 29 Oktober 2025. Kajian pada malam yang mulia ini disampaikan oleh Al-Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid, melanjutkan pembahasan dari Kitab Wasailul Wul ila Syamailir Rasul sallallahu alaihi wasallam. Pembahasan kali ini mengupas tuntas tentang kesucian jasad Baginda Nabi Muhammad ﷺ dan dalil-dalil kuat yang menjadi dasar praktik Tabarrukan atau mencari berkah dari peninggalan beliau.
Habib Muchsin menjelaskan, jasad Rasulullah ﷺ adalah jasad yang dikhususkan oleh Allah SWT. Beliau tidaklah mengeluarkan sesuatu kecuali yang harum (thaibun), sehingga tanda dari kesucian dan keharuman ini tampak pada pakaian beliau. Disebutkan dalam riwayat bahwa baju yang dikenakan oleh Rasulullah itu tidak pernah kotor sama sekali (la yattasiku lahu qottu), selalu bersih, dan selalu wangi, sebab keringat beliau sendiri adalah aroma yang suci.
Keharuman jasad Nabi tersebut dibuktikan melalui kisah Ummu Sulaim, ibunda dari Sahabat Anas bin Malik. Ketika Nabi istirahat siang dan berkeringat, Ummu Sulaim melihat keringat beliau memancarkan aroma harum. Beliau pun lantas mengumpulkan keringat tersebut dengan wadah. Saat ditanya oleh Nabi, Ummu Sulaim menjawab bahwa keringat itu jauh lebih harum daripada parfum dan akan digunakan sebagai minyak wangi bagi anak-anaknya.
Sikap Nabi yang mendiamkan (tidak melarang) perbuatan Ummu Sulaim ini menjadi dalil yang sangat kuat dalam hukum syariat bahwa Tabarrukan (mencari berkah) dengan peninggalan Rasulullah ﷺ hukumnya adalah boleh. Ini membuktikan bahwa zat beliau, termasuk keringat dan segala yang keluar darinya, membawa kemuliaan dan keberkahan yang diakui oleh syariat.
Praktik Tabarrukan ini juga dilakukan oleh para Sahabat dalam konteks lain. Dijelaskan bahwa ludah Rasulullah ﷺ yang jatuh, bahkan tidak sampai menyentuh tanah, akan langsung ditampung oleh tangan seorang Sahabat, kemudian diusapkan ke wajah mereka. Hal ini menunjukkan betapa besar rasa cinta dan keinginan Sahabat untuk mengambil berkah dari setiap bagian jasad mulia Sang Nabi.
Contoh lain yang lebih terkenal adalah Sahabat Khalid ibnul Walid, yang mendapat julukan Saifulah al-Maslul (Pedang Allah). Dalam satu peperangan dahsyat, ketika topi perangnya terjatuh, ia rela mengabaikan musuh hanya untuk mencari topi tersebut. Setelah ditanya, Khalid menjelaskan bahwa di topi itu ia menyimpan helai rambut Rasulullah ﷺ, sebagai Tabarrukan agar diberi kemenangan oleh Allah SWT.
Bahkan, istri Nabi, Ummu Salamah, juga mempraktikkan hal yang sama. Beliau memiliki jubah Nabi yang digunakan untuk penyembuhan. Jika ada orang sakit datang, jubah tersebut disiram sedikit air, lalu sisa air tersebut diberikan kepada yang sakit, dan dengan izin Allah, mereka pun sembuh. Semua riwayat ini menguatkan bahwa hukum Tabarrukan adalah final dan dibolehkan dalam syariat.
Selain kesucian jasad, Habib Muchsin juga memaparkan 10 keistimewaan (Khususiyat) yang hanya dimiliki oleh Nabi Muhammad ﷺ. Empat keistimewaan pertama adalah: beliau tidak pernah bermimpi basah (ihtilam) karena mimpi basah berasal dari setan; beliau tidak memiliki bayangan (dilal); bumi menelan segala sesuatu yang keluar dari tubuh beliau; dan serangga seperti lalat atau kutu tidak pernah hinggap di jasad beliau.
Keistimewaan kelima dan keenam berkaitan dengan indra dan kesadaran beliau. Nabi dapat melihat yang di belakangnya sama seperti beliau melihat yang di depannya, sehingga beliau tidak perlu menoleh ke belakang. Sementara itu, meskipun mata beliau tidur saat istirahat, hati beliau tidak pernah tidur (qolbuhu la yanam), senantiasa terjaga dan terhubung dengan Allah SWT.
Keistimewaan ketujuh dan kedelapan adalah Nabi tidak pernah menguap (angop) sepanjang hidupnya, sebab menguap itu datangnya dari setan, yang tidak dapat menguasai diri beliau. Lebih lanjut, beliau dilahirkan dalam keadaan sudah terkhitan (makhtunan), yang mana hikmahnya adalah Allah menjaga agar tidak seorang pun dapat melihat aurat beliau.
Keistimewaan kesembilan menunjukkan bahwa binatang tunggangan yang beliau naiki mengenal dan patuh kepada beliau, dan Rasulullah juga mengerti bahasa binatang, seperti kisah beliau berbicara dengan kijang. Terakhir, keistimewaan kesepuluh, jika beliau duduk di antara para sahabat, beliau tampak lebih tinggi daripada mereka, meskipun postur beliau tergolong sedang (muktadil).
Dengan mempelajari Syama’il Nabi ini, diharapkan kerinduan dan cinta kita kepada Rasulullah ﷺ semakin bertambah kuat. Semoga kita semua mendapatkan berkah dari majelis ini, dan sebelum meninggal dunia, wajah kita diberikan kesempatan untuk melihat wajah mulia Nabi Muhammad ﷺ, serta dikumpulkan bersama beliau di dunia, Barzakh, dan akhirat. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.
Sumber: Pengajian Rutin Ba’da Maghrib Hari Rabu bersama HABIB MUCHSIN bin ALI AL bin HAMID di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang