KabarMasjid.id, Solo – Suasana khidmat menyelimuti Kajian Pagi yang diselenggarakan di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta pada Selasa 28 Oktober 2025. Dalam kesempatan mulia tersebut, Ustadz Sholeh Al Jufri melanjutkan pembahasan Kitab Al-Adabul Mufrad karya Imam Bukhari. Kajian ini berfokus pada bab-bab penting tentang adab seorang anak terhadap orang tua, khususnya mengenai kewajiban berbakti kepada ayah, batasan ketaatan, hingga pentingnya menjaga lisan. Memahami adab ini adalah kunci bagi setiap Muslim untuk meraih pintu-pintu surga.
Ustadz Sholeh Al Jufri memulai dengan mengulang kembali hadis populer yang sering menjadi patokan dalam penentuan prioritas bakti. Kewajiban berbakti (birrul walidain) adalah fondasi akhlak, dan kedua sosok inilah yang menjadi sebab keberadaan kita di dunia. Namun, Islam memberikan porsi yang berbeda berdasarkan pengorbanan yang telah diberikan.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapa orang yang paling berhak untuk saya berbakti kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Pertanyaan itu diulang hingga tiga kali, dan tiga kali pula Nabi menjawab “Ibumu,” baru pada kali keempat Nabi menyebut “Ayahmu.”
Prioritas ini bukan tanpa alasan. Ibu didahulukan karena pengorbanan yang bersifat unik dan hanya bisa dilakukan olehnya, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Tiga hal ini tidak mungkin dilakukan oleh laki-laki. Setelah fase tersebut, barulah peran ayah dan ibu seimbang dalam hal mengurus anak, ditambah peran ayah yang wajib memberikan nafkah.
Meskipun demikian, terdapat nuansa yang perlu dipahami. Dalam urusan khidmat (pelayanan, seperti mengeluarkan biaya atau menyangoni) dan in’am (pemberian kenikmatan), ibu didahulukan. Akan tetapi, dalam urusan takzim (menghormati) dan ihtiram (memuliakan), ayah didahulukan karena darinya didapatkan garis nasab. Keseimbangan dalam berbakti tetap harus dijaga, tetapi prioritas pelayanan diberikan kepada ibu.
Puncak dari bakti seorang anak termuat dalam bab selanjutnya, yakni berbakti kepada kedua orang tua meskipun mereka berdua zalim. Ustaz Sholeh Al Jufri menegaskan bahwa ini adalah tingkatan kesempurnaan bakti tertinggi, karena tidak semua orang mampu berbuat baik terhadap orang tua yang bersikap kasar, menyusahkan, atau bahkan merugikan anak.
Anak yang setiap hari bertekad mendapatkan ridho orang tua dijanjikan oleh Allah dengan dibukanya dua pintu surga. Sebaliknya, apabila seorang anak membuat salah satu orang tuanya marah atau murka, maka Allah tidak akan ridho kepadanya. Ridho Allah sangat tergantung pada ridho orang tua. Oleh karena itu, mencari rida mereka adalah kewajiban yang harus diupayakan.
Kewajiban taat ini berlaku mutlak, namun terdapat batasan. Ketaatan wajib diberikan dalam urusan-urusan duniawi yang bersifat mubah (halal), seperti meminta uang, meminta bantuan, atau bahkan urusan politik seperti pilihan pilpres.
Para ulama bahkan, merujuk pandangan Imam Ghazali, menyatakan bahwa anak wajib taat kepada orang tua dalam perkara yang bersifat syubhat (tidak jelas halal/haram). Alasannya, mencari rida orang tua adalah kewajiban agama, sedangkan meninggalkan perkara syubhat hanyalah bersifat wara’ (kehati-hatian). Ketaatan baru gugur jika orang tua memerintahkan sesuatu yang secara jelas haram dan dilarang oleh syariat.
Selain ketaatan fisik dan materi, birrul walidain juga diwujudkan melalui lilinul kalam, yakni perkataan yang lembut. Seorang anak wajib berbicara kepada orang tua dengan sopan dan lemah lembut, tidak menggunakan kata-kata kasar atau membentak, karena hal ini adalah bentuk adab yang ditekankan dalam ajaran Islam.
Menutup kajian, Ustadz Sholeh Al Jufri menyentil tentang dosa-dosa besar (al-kabair) yang perlu dihindari, merujuk pada riwayat sahabat Abdullah bin Umar. Tiga dosa besar yang disorot adalah berbuat syirik kepada Allah, membunuh jiwa (qatlu nasamah), dan lari dari peperangan (firaru minazzahfi) melawan orang kafir yang memerangi umat Islam.
Ustadz Sholeh Al Jufri mengingatkan seluruh hadirin, khususnya mereka yang masih memiliki orang tua, untuk terus berusaha menjadi anak yang berbakti. Dengan menjaga ketaatan, menjaga lisan, dan memprioritaskan rida keduanya, insya Allah kita akan mendapatkan akses dan kesempatan emas untuk memasuki surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sumber: Kajian Al Adabul Mufrod Ustadz Sholeh Al Jufri di Channel Youtub MJA Solo