KabarMasjid.id, Malang – Dalam sebuah kesempatan Kajian Rutin Rabu Bada Subuh 29 Oktober 2025 yang diselenggarakan di Masjid Agung Jami Malang, KH. Marzuki Mustamar menyampaikan sebuah pesan penting mengenai tanggung jawab terbesar umat dan tokoh agama, yaitu hifdud din atau menjaga agama. Menurut beliau, kewajiban ini tidak hanya sebatas ritual ibadah, tetapi juga mencakup integritas moral, kualitas keilmuan, dan kemampuan beradaptasi di tengah tantangan zaman, terutama era media sosial yang serba terbuka.
Kyai Marzuki mengawali ceramahnya dengan mengutip pandangan ulama yang menyatakan, “Awwalu wajibin ala kulli mukallafin hifdu dinih,” yang berarti kewajiban pertama bagi setiap mukallaf (orang yang terbebani syariat) adalah menjaga agamanya. Menjaga agama dalam konteks ini adalah memastikan akidah dan syariat tidak terkikis, serta menjaga kepercayaan masyarakat agar tetap yakin terhadap kebenaran ajaran Islam.
[Salah satu pilar dalam menjaga kepercayaan adalah peningkatan kualitas keilmuan. Beliau menekankan bahwa para tokoh dan kiai harus terus meningkatkan mutu bacaan dan kualitas keilmuan mereka, tidak boleh berpuas diri atau “patok bangkrong” (stagnan). Perkembangan ilmu di luar Islam terus bergerak maju, sehingga para kiai harus mampu mengimbangi agar umat merasa bangga dan puas dengan kemampuan keilmuan pemimpinnya.
Secara praktis, Kyai Marzuki menyarankan agar sesibuk apapun pengurus atau tokoh NU, mereka harus tetap meluangkan waktu untuk mengajar di pondok. Kewajiban mengajar akan memaksa seorang kiai untuk terus-menerus melakukan mutalaah (mengulang dan mendalami pelajaran) demi mempersiapkan materi. Siklus membaca ini sangat krusial agar ilmu yang dimiliki selalu update dan shahih (valid).
Selain penguasaan kitab kuning, seorang tokoh agama juga wajib memahami betul permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat sebelum mengeluarkan pendapat. Sebagai contoh, dalam kasus pembongkaran makam di Winongan, Kiai Marzuki menekankan perlunya mengetahui status tanah, siapa yang dimakamkan, dan sejarah makam tersebut, baru kemudian memberikan sikap yang sesuai dengan syariat.
Kehati-hatian ini berlaku untuk segala isu, termasuk hal-hal baru seperti mata uang digital. Sebelum berfatwa tentang Bitcoin, misalnya, kiai harus mengkaji secara mendalam tentang mekanisme kerjanya, tujuan pembuatannya, unsur gharar (spekulasi) yang terlibat, dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi. Pendapat yang dikeluarkan harus berdasarkan ilmu, bukan karena sekadar suka atau tidak suka pada suatu pihak.
Tantangan terbesar saat ini adalah era media sosial. Kiai Marzuki mengingatkan, ketika seorang kiai berbicara di Malang, dalam hitungan menit bisa didengar oleh publik di Malaysia, Amerika, atau di mana pun. Jika konten yang disampaikan tidak bermutu atau tidak ilmiah, maka akan menjadi bahan tertawaan dan menjatuhkan wibawa agama itu sendiri, yang pada akhirnya meruntuhkan kepercayaan umat.
Jati diri atau integritas moral (jaga moral) menjadi benteng utama kepercayaan. Beliau secara tegas mengingatkan bahaya mencla-menclae (inkonsisten) karena disogok atau adanya kepentingan tertentu, yang membuat tokoh agama berpendapat lain dari kebenaran yang ia yakini. Beliau juga menyoroti kasus nikah siri di kalangan tokoh yang, meskipun dianggap tidak haram secara pribadi, namun secara sosial dapat menimbulkan tuduhan miring dan menghancurkan reputasi.
Inti dari menjaga moral adalah kejujuran (sidq). Kiai Marzuki menegaskan bahwa kebohongan (goroh) adalah penyakit yang paling merusak kepercayaan. Dulu, orang yang sekali saja ketahuan berbohong, hadisnya langsung dicoret dan dianggap palsu oleh ulama Hadis. Apabila umat tidak lagi percaya pada kejujuran pemimpinnya, maka bahaya besar akan mengintai, termasuk risiko dianggap enteng oleh orang di luar Islam.
Rasulullah SAW dipilih Allah SWT sebagai utusan karena memiliki sifat super cerdas (fatonah) dan super jujur (shidq) serta amanah. Sifat-sifat inilah yang membuat umat cepat percaya. Nilai kejujuran ini harus dipraktikkan hingga ke level paling bawah. Beliau mencontohkan, jika penjual muslim sering berbohong kepada pembeli non-muslim, maka orang non-muslim akan menyimpulkan bahwa ajaran Islamlah yang mengajarkan kebohongan.
Selain keilmuan formal, Kiai Marzuki juga mengingatkan pentingnya amalan spiritual, seperti membaca wirid, hizib, dan memperbanyak selawat. Amalan-amalan ini berfungsi untuk memunculkan karomah (keajaiban) yang bisa menjadi sebab bagi orang awam untuk tetap yakin dan percaya pada ulama dan ajaran Islam.
Sebagai penutup, Kiai Marzuki berpesan kepada seluruh penggerak Ahlussunnah wal Jama’ah untuk terus meningkatkan kualitas berhujah dengan menguasai kitab-kitab Ushul Fiqh (prinsip fikih), Mantiq (logika), dan Hadis. Semua upaya ini, dari peningkatan ilmu hingga penjagaan moral dan amalan spiritual, adalah demi satu tujuan: menjaga agar umat tetap percaya pada kebenaran agama dan tidak beralih ke kelompok lain. Kepercayaan umat adalah nomor satu.
Sumber: Kajian Rutin Rabu Bada Subuh oleh KH. Marzuki Mustamar disiarkan Channel Youtube Masjid Jami’ Malang