KabarMasjid.id, Malang – Dalam upaya memahami kedalaman spiritual dan etika beribadah, umat Muslim di Malang dan sekitarnya mengikuti kajian yang disiarkan langsung dari Masjid Agung Jami Malang. Pengajian Rutin Ba’da Maghrib pada hari Selasa 28 Oktober 2025 malam ini dibawakan oleh Ustadz H. Achmad Sulton Rofii. Kajian kali ini berfokus pada kelanjutan pembahasan kitab monumental Risalatul Muawanah karya Al Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad, menyoroti aspek krusial yang sering luput: adab dalam melaksanakan wirid dan ibadah, khususnya membaca Al-Qur’an.
Ustadz Sulton Rofii menggarisbawahi sebuah prinsip fundamental dalam beramal. Beliau menjelaskan bahwa amal kebaikan apapun, betapapun banyaknya, baru akan diangkat derajatnya dan menghasilkan pahala besar di sisi Allah jika disertai dengan adab-adab yang benar. Wirid membaca Al-Qur’an, yang merupakan ibadah paling utama, juga harus ditunaikan dengan etika yang sempurna.
Adab yang pertama dan paling pokok adalah memurnikan niat (Ikhlas), yakni semata-mata karena Allah. Niat merupakan fondasi. Jika niatnya salah—misalnya karena ingin dipuji, diperhatikan, atau dibalas manusia—maka amal tersebut tidak dihitung sebagai ibadah, dan wirid yang dilakukan pun tidak akan menjadi penyemangat spiritual yang sejati.
Kedua, ibadah harus disertai dengan Ilmu. Artinya, tata cara pelaksanaan amal harus sesuai dengan ketetapan syariat. Khusus dalam membaca Al-Qur’an, adab ini menuntut pembacanya untuk menyesuaikan dengan aturan baca, seperti tajwid yang benar, agar bacaan tersebut menghasilkan pahala dan menjadi wirid yang shahih.
Adab ketiga adalah Merenungkan Makna (mengangan-angan maknanya) dari ayat-ayat yang dibaca. Meskipun mungkin tidak semua ayat, namun pada ayat-ayat tertentu yang mudah dipahami, kita dianjurkan untuk menghadirkan maknanya di dalam hati. Oleh karena itu, bacaan terbaik adalah tartil, yaitu membaca perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa, untuk memberikan ruang bagi perenungan.
Adab keempat adalah Menghadirkan Kehadiran Allah (Ihsan), yaitu merasa seolah-olah kita sedang berada di hadapan-Nya. Perasaan dilihat dan diawasi oleh Allah ini akan mendorong seseorang untuk benar-benar mengagungkan-Nya dan melaksanakan ibadah dengan sebaik mungkin, jauh dari kelalaian.
Setelah menjelaskan adab umum, Ustadz Sulton Rofii beralih pada adab khusus saat membaca jenis-jenis ayat tertentu. Ketika membaca ayat-ayat Tauhid (keesaan) dan Tamjid (keagungan), hati harus penuh dengan pengagungan dan pengesaan kepada Allah. Pembaca harus menguatkan keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa menolong, menjaga, mencukupi, dan menghendaki segala sesuatu.
Saat melewati ayat-ayat yang berisi Janji Allah (wa’di), seperti dalam Surah At-Talaq ayat 2-3 (tentang takwa dan tawakal), hati harus dipenuhi semangat dan ketenangan. Janji akan diberi jalan keluar (makhroja) dan rezeki dari jalan tak terduga bagi orang yang bertakwa harus menjadi pemantap hati untuk bersungguh-sungguh dalam ketaatan.
Sebaliknya, ketika membaca ayat-ayat Ancaman (wa’id), seperti Surah Al-Ankabut ayat 40 yang menceritakan pembinasaan kaum terdahulu akibat dosa, rasa takut kepada Allah harus semakin kuat. Kesadaran bahwa bala dan kesulitan yang menimpa adalah akibat dari dosa-dosa harus mendorong kita untuk segera bertaubat dan menjauhi perbuatan terlarang.
Adab saat membaca ayat Perintah (awamir) dan Larangan (zawajir), seperti perintah berbakti kepada orang tua dalam Surah Al-Isra ayat 23, adalah dengan melakukan muhasabah (introspeksi diri). Kita perlu mengoreksi, apakah perintah yang dibaca sudah diamalkan dan larangan yang disebutkan sudah ditinggalkan.
Hasil dari muhasabah harus berujung pada Syukur atau Istigfar. Jika berhasil mengamalkan, kita wajib bersyukur karena itu semata-mata pertolongan Allah, sekaligus menghindari syirik samar—yaitu merasa bahwa kekuatan amal berasal dari diri sendiri. Jika gagal atau masih sering terjerumus dalam dosa, termasuk riya’ atau pamer, maka kita harus segera menyesal dan banyak beristigfar, karena istigfar adalah penghapus kesusahan dan pelancar rezeki.
Sebagai penutup, Ustadz Sulton Rofii menekankan kedudukan Al-Qur’an sebagai Hual Bahrul Muhit, atau Samudra Ilmu yang Luas. Hal ini menunjukkan bahwa hikmah dan ilmu dari Al-Qur’an tidak pernah habis digali, dan menjadi sumber kebaikan bagi siapa pun yang mau membaca, mempelajari, dan membersihkan hatinya, sesuai sabda Nabi: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Sumber: Pengajian Rutin Ba’da Maghrib Hari Selasa bersama Ustadz. H. Achmad Sulton Rofii di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang