KabarMasjid.id, Solo – Kajian umum yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifa’i di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta pada tanggal 22 Oktober 2025 menjadi sorotan publik. Dalam majelis ilmu tersebut, Ustadz Rifa’i mengupas tuntas tentang makna, tujuan, dan hikmah dari tradisi Haul atau peringatan tahunan wafatnya para ulama, dengan menjadikan Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi di Solo sebagai studi kasus utama.
Tradisi Haul, khususnya yang digelar secara besar-besaran seperti di Solo, seringkali memunculkan kebahagiaan universal. Ustadz Rifa’i menuturkan bahwa ketika melihat tanggapan publik dan media, nyaris tidak ada satu pun pihak yang merasa tidak senang. Seluruh warga, baik lokal maupun dari luar kota, berbondong-bondong hadir dengan perasaan gembira dan sukacita.
Bukan hanya dampak spiritual, Ustadz Rifa’i menyoroti secara khusus efek positif di sektor ekonomi. Beliau menceritakan kisah seorang ibu penjual es teh yang dalam satu hari penyelenggaraan Haul mampu meraih omzet hingga Rp3 juta, serta pengakuan dari para tukang ojek yang kebanjiran orderan tanpa henti.
Inilah yang diibaratkan oleh Ustadz Rifa’i sebagai penerapan dari dawuh para ulama: “Kam min mayyitin fainnahu hayyun,“ yang artinya betapa banyak orang yang secara jasad telah meninggal dunia, namun manfaatnya (hayyun) masih terus hidup dan dirasakan oleh masyarakat luas. Manfaat yang mengalir ini membuktikan bahwa roh dan ajaran mereka tetap aktif di dunia.
Kondisi tersebut ia bandingkan dengan kebalikannya, “Kam hayyin fainnahu mayyitun.” Pepatah ini menyindir betapa banyak orang yang secara jasad masih bergerak, beraktivitas, dan hidup, tetapi hakikatnya ia mati, sebab tidak mampu menebarkan manfaat sama sekali kepada orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, standar orang dikatakan hidup sejati adalah kemampuannya memberi manfaat.
Secara bahasa, kata haul (حَوْل) sendiri memiliki beragam makna. Pertama, ia bisa berarti “keadaan” (al-haal), sebagaimana termaktub dalam doa: “Ya Allah yang membolak-balikkan keadaan, tetapkanlah keadaan kami kepada sebaik-baik keadaan.”
Makna yang kedua adalah “sekitar” (hawl), yang merujuk pada sekeliling atau area terdekat. Contohnya adalah doa Nabi Muhammad ﷺ saat meminta hujan diusir dari Madinah ke sekitarnya: “Allahumma hawālaina walā ‘alainā” (Ya Allah, jadikan hujan di sekitar kami, bukan di atas kami).
Namun, makna ketiga dari haul yang paling relevan dengan tradisi peringatan ini adalah “setahun” (haulun). Makna ini juga digunakan dalam ilmu fikih, di mana harta wajib dizakati jika telah mencapai batas nisab dan dimiliki selama satu tahun penuh (haul). Maka, Haul adalah peringatan tahunan atas wafatnya ulama.
Inti dari Haul adalah pembacaan Manaqib atau riwayat perjalanan hidup Shahibul Haul. Pembacaan manaqib ini bertujuan agar jamaah tidak hanya terpukau pada hasil di akhir hayat mereka, melainkan meniru “resep” hidup beliau saat masih berjuang, seperti meneladani sikap beliau ketika belajar, menghadapi masalah, atau berdakwah.
Ustadz Rifa’i kemudian menjelaskan mengapa para ulama diperingati saat wafat (Haul), sementara Nabi Muhammad ﷺ diperingati saat lahir (Maulid). Hal ini karena Nabi Muhammad ﷺ sudah dijamin kemuliaannya sejak sebelum lahir. Sementara para ulama, ujian hidup mereka hanya bisa dijawab tuntas saat wafat, yang menjadi penentu apakah mereka tergolong ulama rabbani (mewariskan ilmu Allah) atau ulama su’ (hanya mengejar casing dan duniawi).
Terkait penerapannya bagi masyarakat umum, Haul lazimnya ditujukan untuk tokoh yang sudah masyhur kesalehan dan jasa-jasanya bagi umat Islam secara keseluruhan. Untuk memperingati wafatnya orang tua atau kerabat, biasanya lebih tepat disebut sebagai Peringatan Yasin dan Tahlil tahunan, alih-alih menggunakan istilah Haul.
Adapun manfaat spiritual tertinggi dari Haul adalah peluang untuk Tawassul bis-Shalihin. Para peziarah datang untuk membawa hadiah (doa) dan harapan (thalabnakum qasadnakum), meminta kepada Allah melalui doa para ulama yang telah dijamin hidup di sisi-Nya. Jamaah pulang bukan sekadar membawa pengalaman duniawi, melainkan membawa hati yang bersih.
Sebagai penutup, Ustadz Rifa’i mengingatkan bahwa keselamatan hakiki di akhirat hanya bisa diraih oleh “illa man atallaha biqolbin salim” (kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat). Oleh karena itu, tradisi Haul menjadi salah satu sarana untuk membersihkan hati, menghilangkan kebencian, dan kembali menjadi pribadi yang bermanfaat agar kita dapat menjadi bagian dari mereka yang hidup secara hakiki.
Sumber: Kajian Umum Ustadz Ahmad Rifa’i Masjid Jami’ Assagaf Surakarta di Channel Youtube MJS Solo