KabarMasjid.id, Surabaya – Setiap manusia pada dasarnya mendambakan kehidupan yang bahagia. Namun, di tengah hiruk pikuk aktivitas dan pencapaian duniawi, seringkali kita lupa melakukan jeda sejenak untuk menilik kembali: sudahkah bekal yang kita kumpulkan sepadan dengan harapan kita? Refleksi mendalam tentang hal ini diulas dalam Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Dr. KH. M. Sudjak, M.Ag di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada 24 Oktober 2025 dengan tema inspiratif, “Muhasabah Berbuah Kebahagiaan.”
Khutbah ini mengajak umat untuk menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak didapatkan secara instan, melainkan melalui proses muhasabah atau koreksi internal yang jujur terhadap diri sendiri. Muhasabah adalah evaluasi berkelanjutan terhadap amal dan perbuatan yang telah dilakukan, sebuah jembatan yang menghubungkan antara usaha spiritual kita hari ini dengan hasil yang akan kita tuai di akhirat kelak.
Dalam judul khutbah tersebut, terdapat dua kata kunci yang harus kita pahami secara mendalam. Yang pertama adalah muhasabah, dan yang kedua adalah kebahagiaan. Seringkali orang keliru memahami kebahagiaan, menyamakannya dengan kepuasan sesaat.
Menurut Dr. Sudjak, kebahagiaan yang sejati tidak hanya sebatas puas atau senang, melainkan harus memenuhi tiga unsur penting. Dalam bahasa Jawa, unsur-unsur tersebut mudah diingat dan terangkum dalam istilah M.A.T., yang menunjukkan tingkatan kualitas batin seseorang.
Tiga unsur M.A.T. tersebut adalah Marem (puas atau senang atas pencapaian), Ayem (hati yang tenang, tanpa kegelisahan atau kekhawatiran sedikit pun), dan Tentrem (penuh kedamaian di dalam hati). Beliau menegaskan bahwa seseorang yang sekadar Marem, misalnya setelah sukses meraih jabatan tinggi atau lulus studi, belum tentu bahagia jika hatinya tidak Ayem dan Tentrem.
Berdasarkan hasil muhasabah, umat manusia dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok utama terkait kebahagiaan. Kelompok pertama adalah mereka yang berhasil bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, yang merupakan tujuan akhir. Kelompok kedua bahagia di dunia namun tidak di akhirat. Kelompok ketiga tidak bahagia di dunia namun berbahagia di akhirat. Sementara kelompok keempat adalah yang paling merugi, yakni tidak bahagia di dunia sekaligus tidak bahagia di akhirat.
Lantas, kapan waktu ideal untuk melaksanakan muhasabah? Khatib menyarankan bahwa muhasabah seharusnya dilakukan setiap saat, terutama menjelang waktu tidur, sebagai evaluasi singkat atas apa yang sudah dilakukan seharian penuh. Hal ini sesuai dengan peringatan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hasyr ayat 18, yang memerintahkan kita untuk memperhatikan bekal apa yang sudah kita siapkan untuk hari esok.
Pentingnya muhasabah juga didasarkan pada Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Imam At-Tirmidzi. Hadis tersebut menyatakan bahwa kaki seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada Hari Kiamat sebelum ditanya tentang empat perkara.
Dua pertanyaan pertama yang akan diajukan adalah mengenai Umurnya, untuk apa ia dipergunakan selama hidup di dunia; dan yang kedua mengenai Jasadnya (anggota badan), untuk apa ia dimanfaatkan. Beliau mengingatkan, setiap pertambahan usia hakikatnya adalah pengurangan jatah hidup di dunia dan semakin mendekatnya panggilan Allah untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan.
Kemudian, dua pertanyaan yang tersisa adalah tentang Ilmunya, sejauh mana ilmu yang diperoleh telah diamalkan; dan yang terakhir adalah tentang Hartanya (termasuk jabatan dan pekerjaan). Mengenai harta, terdapat dua aspek pertanyaan: dari mana harta itu diperoleh, dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan atau dipergunakan selama hidup.
Pentingnya muhasabah dan pemanfaatan umur yang baik juga disinggung dalam konteks ‘siapa orang terbaik dan terjelek’. Rasulullah SAW bersabda, orang terbaik (ayyunnasi khairun) adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya (man thola umruhu wa hasuna amaluhu). Sebaliknya, orang terjelek (ayyunnasi syarron) adalah yang juga panjang umurnya, tetapi jelek perbuatannya (wasaa amaluhu).
Oleh karena itu, jika kita mendambakan status sebagai hamba terbaik dan meraih kebahagiaan sejati—yakni Marem, Ayem, dan Tentrem—maka langkah wajibnya adalah mengintegrasikan muhasabah dalam setiap sendi kehidupan. Dengan mengevaluasi dan memperbaiki empat aspek utama kehidupan (umur, jasad, ilmu, dan harta), kita berharap dapat menjadi bagian dari kelompok pertama yang bahagia di dunia dan di akhirat.
Sumber: Khutbah Jum’at dengan tema “Muhasabah Berbuah Kebahagiaan” Dr. KH. M. Sudjak, M.Ag di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV