KabarMasjid.id, Solo – Setiap manusia mendambakan kesuksesan, namun kesuksesan sejati bukanlah semata-mata diukur dari tumpukan harta, melainkan keberkahan yang menyertainya. Pada kesempatan Ngaji Selasa Malam 21 Oktober 2025 yang diselenggarakan di Masjid Jenderal Sudirman, Dr. Muhammad Taufik, M. Ag. dari MJS Channel, memaparkan secara mendalam tentang “Kunci Sukses Meraih Hidup Berkah.” Beliau menekankan bahwa sukses yang dicari haruslah mencakup kebahagiaan duniawi sekaligus kemenangan di akhirat.
Menurut Dr. Taufik, berkah diartikan sebagai kenikmatan yang melimpah, tidak hanya dari sisi materi, tetapi juga kelimpahan rohani seperti hati yang tenang dan hidup yang nyaman. Beliau mengingatkan bahwa Allah SWT telah memberikan panduan eksplisit mengenai cara meraih keberuntungan ini. Kunci-kunci tersebut tertuang dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1 sampai 11, yang secara khusus menyebutkan ciri-ciri orang mukmin yang sungguh beruntung.
Ciri pertama orang mukmin yang beruntung adalah alladzina hum fi sholatihim khosi’un, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. Khusyuk adalah tantangan terbesar, mengingat berbagai urusan dunia sering mengganggu pikiran, bahkan sejak takbiratul ihram. Beliau menjelaskan bahwa salat adalah Mi’raj al-mukmin (tangga naiknya orang mukmin), di mana fokus harus sepenuhnya tertuju pada Allah, meninggalkan sejenak segala urusan duniawi untuk mencapai tingkatan ibadah yang maksimal.
Kunci kedua adalah walladzina hum anilaghi murridun, yakni orang-orang yang meninggalkan perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Orang sukses adalah mereka yang fokus pada hal-hal yang benar dan penting. Mereka tidak hanya pandai mengatur waktu kerja dan ibadah, tetapi juga sangat selektif dalam berbicara. Kebijaksanaan mereka tercermin dari pepatah: seseorang yang pendiam bukan berarti tidak bisa bicara, melainkan ia hanya mau bicara jika apa yang diucapkan itu berguna.
Secara lebih spesifik, Dr. Taufik mencontohkan ghibah (menggosip) sebagai perbuatan dan perkataan yang tidak berguna sama sekali. Ghibah hanya mendatangkan keburukan dan dapat merusak harga diri orang lain. Beliau menganjurkan agar kita segera meninggalkan tempat atau kelompok yang sedang asyik menceritakan keburukan orang lain, sebab tidak ada manfaat di dalamnya selain menabung dosa, dan alangkah tidak senangnya jika kita yang menjadi objek gosip tersebut.
Orang yang sukses dan beruntung berikutnya adalah walladzina hum lizzakati fa’ilun, yaitu orang-orang yang menunaikan zakat. Membayar zakat mal menjadi penanda kesuksesan materi, karena hanya orang yang sudah mencapai nishab (jumlah harta tertentu) yang wajib menunaikannya. Zakat ini memastikan bahwa harta yang dimiliki telah memenuhi kewajiban sosial dan berfungsi sebagai pembebas jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.
Zakat, yang berasal dari kata azka (membersihkan), memiliki tujuan ganda. Pertama, membersihkan jiwa, mengingatkan bahwa harta hanyalah sarana hidup dan bukan tujuan akhir yang dibawa mati. Kedua, membersihkan harta itu sendiri. Pembayaran zakat berfungsi untuk menyucikan harta dari kemungkinan tercampur dengan hak orang lain, sumber yang syubhat (tidak jelas), atau cara perolehan yang kurang benar, menjadikannya harta yang halalan thayibah.
Kunci sukses yang keempat adalah walladzina hum lifurujihim hafidun, yaitu orang yang menjaga kemaluannya. Beliau menekankan bahwa menjaga kehormatan adalah cerminan dari kemampuan mengendalikan nafsu syahwat. Kegagalan dalam mengontrol diri dapat menjatuhkan martabat, merusak karir, dan menghancurkan keutuhan keluarga, seperti yang sering terjadi dalam kasus perselingkuhan dan perzinaan.
Solusi dari ajaran Islam untuk menyalurkan nafsu adalah menikah, meletakkan syahwat pada porsinya melalui jalur yang halal (illa ala azwajihim). Dr. Taufik secara tegas mengingatkan pentingnya menaati firman Allah, la taqrabuz zina (jangan kamu dekati zina). Mendekati zina dapat diindikasikan melalui hal-hal kecil, seperti tidak menundukkan pandangan (ghaddul bashar) atau sengaja mengakses konten pornografi dan pornoaksi, yang saat ini sangat mudah diakses melalui internet.
Selanjutnya, walladzina hum lianatihim wa ahdihim roun, yaitu orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka. Amanah merupakan kepercayaan yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Beliau memberi contoh di dunia kepemimpinan, di mana pemimpin yang amanah akan sukses dan terhindar dari kasus hukum. Sebaliknya, orang yang mengabaikan amanah, meskipun diberikan kekuasaan tinggi, seringkali harus berakhir dengan kegagalan atau bahkan mendekam di penjara.
Kunci yang terakhir adalah walladzina hum ala sholawatihim yuhafizun, yaitu orang-orang yang memelihara salat mereka. Memelihara salat berarti menjaganya agar tidak terlewat dan dilakukan dengan cara yang terbaik. Cara pemeliharaan salat yang optimal adalah dengan mengerjakannya di awal waktu (afdalu sholati fi awali waktiha) dan berusaha untuk selalu melaksanakannya secara berjamaah, karena pahala salat berjamaah jauh lebih besar dibandingkan salat sendirian (munfarid).
Secara keseluruhan, enam poin yang bersumber dari Surah Al-Mu’minun ini adalah formula yang komprehensif bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan yang sesungguhnya. Kesuksesan bukan hanya tentang materi, tetapi tentang kualitas diri yang khusyuk dalam ibadah, selektif dalam pergaulan, dermawan dalam harta, suci dalam perbuatan, serta teguh dalam janji dan komitmen. Dengan menjaga enam kunci ini, Insya Allah hidup kita akan dipenuhi keberkahan, selamat di dunia, dan sukses di akhirat.
Sumber: Ngaji Selasa Malam: KUNCI SUKSES MERAIH HIDUP BERKAH Dr. Muhammad Taufik, M. Ag. Channel Youtube MJS Channel