Muhasabah Diri: Memperbaiki Shalat dan Meneladani Dzikir Rasulullah Agar Dicintai Allah

Drs. H. M. Taufiq AB
Drs. H. M. Taufiq AB

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Kehidupan dunia yang sibuk sering kali membuat kita melalaikan kualitas ibadah. Padahal, kesempatan untuk beribadah tidak kita ketahui batas waktunya. Untuk itu, introspeksi diri (muhasabah) menjadi sangat penting sebagai penentu suksesnya seorang mukmin. Hal ini menjadi pembahasan utama dalam kajian “Sholat & ‘KEDEKATAN’ Kita Kepada ‘ALLAH'” yang disampaikan oleh Drs. H. M. Taufiq AB pada Malam Rabu, 22 Oktober 2025, di Masjid Nasional Al-Akbar.

Menurut Ustadz Taufiq, kunci awal dari muhasabah adalah menyadari bahwa dua nikmat besar yang sering luput dari perhatian banyak orang adalah nikmat sehat (As-Sihah) dan waktu luang (Al-Faragh). Sehat adalah anugerah yang tak ternilai, sementara waktu luang adalah kesempatan emas yang sering dibuang percuma, padahal bisa digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hidup seorang mukmin sejati harus selalu diwarnai dengan dzikrullah, bahkan dalam aktivitas terkecil sehari-hari. Contoh sederhana yang dapat kita tiru adalah mengucapkan Basmalah saat melakukan pekerjaan harian seperti berpakaian, atau mengucapkan salam (Assalamualaikum) saat memasuki rumah, sebab hal-hal kecil ini secara spiritual mampu mengusir setan dan mendatangkan malaikat.

Kualitas ibadah, khususnya shalat, sangat menentukan. Dijelaskan dalam hadis bahwa barang siapa yang berwudu dengan baik (sempurna sunah-sunahnya) dan kemudian melaksanakan shalat sunah dua rakaat dengan khusyuk total—tanpa memikirkan urusan duniawi—maka Allah akan menghapus semua dosanya yang telah lalu. Ini menunjukkan betapa mudahnya jalur menuju ampunan Allah jika dilakukan dengan kualitas.

Kualitas ini harus dijaga dengan memprioritaskan empat ibadah harian yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim, yaitu Shalat, Doa, Dzikir, dan Al-Qur’an. Dalam semua ibadah ini, ditekankan bahwa yang didahulukan adalah kualitasnya (kaifiyah) sebelum jumlahnya (kuantitas), sebab ibadah yang bermutu adalah ketaatan yang dilandasi rasa cinta kepada Allah.

Lebih lanjut, penceramah merujuk pada Surah Al-Mukminun ayat 1-3 yang menggarisbawahi tiga tanda suksesnya orang beriman. Tanda pertama dan yang paling utama adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya. Khusyuk adalah gerbang untuk mencapai kesuksesan seorang mukmin.

Tanda sukses yang kedua adalah mereka yang berpaling dari perbuatan yang sia-sia (anillaghwi mridun). Hal ini meliputi tidak membuang-buang waktu untuk obrolan tidak berguna (laghwi), apalagi yang menjurus ke ghibah. Menjaga lisan dari laghwi adalah syarat spiritual untuk mencapai kekhusyukan dalam shalat.

Tanda sukses ketiga adalah mereka yang bekerja untuk mengeluarkan zakat (lizzakati fa’ilun). Istilah fa’ilun menunjukkan bahwa perencanaan zakat sudah ada sejak awal membangun bisnis, dan yang terpenting, zakat ditunaikan bukan karena terpaksa, melainkan dengan hati yang senang dan ridha.

Lantas, bagaimana cara agar kita dicintai oleh Allah? Ayat dalam Surah Ali Imran ayat 31 memberikan jalurnya, yang intinya adalah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu…”

Mengikuti pola hidup Rasulullah—mulai dari cara makan, berpakaian, hingga kebiasaan berdzikir—menjadi jembatan utama untuk sampai pada cinta Ilahi. Hal ini akan mempermudah kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah (wayagfir lakum dunubakum).

Selain itu, penceramah mengingatkan bahwa syarat mutlak masuk surga adalah menjadi orang yang bersih (Nadif), karena tidak mungkin surga dimasuki oleh orang yang kotor.

Kebersihan yang dimaksud mencakup kebersihan akidah, kebersihan makanan (menghindari makanan haram dan riba), serta kebersihan lisan dari perkataan kotor dan menceritakan kejelekan orang lain. Pengejaran hidup yang bersih ini memudahkan seseorang untuk mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatnya (Husnul Khatimah).

Kesimpulan: Dengan meningkatkan kualitas sholat dan mengamalkan empat ibadah harian (Sholat, Doa, Dzikir, Al-Qur’an) serta meneladani pola hidup Nabi, kita dapat semakin akrab dan dicintai oleh Allah SWT. Inilah jalan menuju kualitas iman dan takwa yang sesungguhnya.

Sumber: Kajian “Sholat & ‘KEDEKATAN’ Kita Kepada ‘ALLAH'” yang disampaikan oleh Drs. H. M. Taufiq AB di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV

E-Buletin