4 Tingkatan Dzikir Menurut Imam Al-Ghazali: Rahasia Mendapat Manisnya Iman

Halaqoh Maghrib Kitab Nashoihud Diniyah Ustadz Abubakar Adni Alhabsyi
Halaqoh Maghrib Kitab Nashoihud Diniyah Ustadz Abubakar Adni Alhabsyi

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Pada tanggal 20 Oktober 2025, dalam majelis Halaqoh Maghrib Kitab Nashoihud Diniyah yang diselenggarakan oleh MJA Solo, Ustadz Abubakar Adni Alhabsyi menyampaikan kajian mendalam mengenai bab dzikir. Dalam sesi tersebut, beliau mengupas tuntas panduan rohani dari Al-Imam Qutbil Isyad Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dan penjelasan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali tentang bagaimana seorang hamba dapat mencapai puncak kenikmatan dalam mengingat Allah SWT. Sebuah pencerahan spiritual yang sangat penting, berikut adalah intisari dari pelajaran tersebut yang mengupas hierarki amalan zikir.

Kajian dibuka dengan penjelasan dasar bahwa sebaik-baiknya dzikir (afḍalud-dzikr) adalah perpaduan antara dzikir lisan (lisān) dan zikir hati (qalbu). Dzikir tidak seharusnya hanya menjadi sekadar rutinitas verbal atau gerakan bibir semata, melainkan harus melibatkan kehadiran jiwa.

Para ulama sepakat bahwa apabila amalan ini dilakukan secara terpisah, maka zikir hati (dzikrul qalbi) jauh lebih afdal dibandingkan hanya berzikir dengan lisan saja. Ini karena hati adalah pusat keimanan, dan apa yang terbetik di dalamnya menjadi penentu nilai sebuah ucapan.

Lantas, apa yang dimaksud dengan dzikir hati? Ustadz Abubakar Adni Alhabsyi menjelaskan bahwa makna zikrul qalbi adalah ketika ucapan zikir yang dilantunkan secara lisan, senantiasa dihadirkan (ḥāḍirah) maknanya di dalam hati. Dzikirnya diucapkan lisan, tetapi hatinya meresapi makna dan tujuan dari ucapan tersebut.

Tingkatan ini tidak datang secara tiba-tiba. Imam Al-Ghazali menyebut bahwa untuk mencapai dzikir hati, seseorang harus melakukan usaha (takallufan), yaitu memaksakan diri dan berproses untuk menyingkronkan lisan dan hati. Proses inilah, bukan hasil akhirnya, yang dinilai sebagai kesungguhan seorang hamba di mata Allah SWT.

Hadiah dari kesungguhan ini sangatlah besar. Dzikir hati, yang dilakukan dengan susah payah, kelak akan membuahkan hidayah dan kelezatan berzikir (lażżat zikir) serta manisnya keimanan (ḥalāwatul īmān). Kelezatan rohani ini melampaui segala kenikmatan yang bersifat duniawi.

Ketika seorang hamba telah mencapai lażżat dzikir, ia akan memasuki kondisi tenggelam (istighrāq) dalam mengingat Allah. Dalam kondisi ini, seluruh perhatian dan keinginannya hanya tertuju pada Sang Pencipta, menjadikan harta, jabatan, dan segala gemerlap dunia menjadi tidak bernilai di hadapannya.

Hal ini sejalan dengan pandangan Nabi Muhammad ﷺ bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat singgah sementara. Beliau bersabda, jadilah dirimu di dunia ini seperti orang asing atau musafir yang sedang melewati jalan. Dunia adalah rest area, tempat kita mengumpulkan bekal, bukan tempat membangun istana.

Untuk mempermudah pemahaman, Imam Al-Ghazali membagi amalan zikir ke dalam empat martabat atau tingkatan:

  1. Dzikrul Lisān Faqaṭ (Zikir Lisan Saja): Hanya mengucapkan tanpa kehadiran hati. Ini memiliki manfaat yang kecil dan dampak yang sangat lemah bagi kehidupan.
  2. Dzikrul Qalb ma’al Lisān Takallufan (Zikir Hati bersama Lisan secara Dipaksakan): Ini adalah tahapan yang paling melelahkan, di mana seseorang harus berusaha keras meredam gangguan pikiran agar hati dan lisan tetap sejalan.
  3. Dzikrul Qalb Ṭab’an (Zikir Hati secara Alami): Zikir telah menjadi kebutuhan primer, mengalir tanpa paksaan, sama seperti kebutuhan seseorang terhadap makan dan minum.
  4. Istīlā’ al-Mażkūr ‘alal Qalb (Hati Dikuasai oleh Zat yang Dizikirkan): Ini adalah martabat tertinggi, di mana hati telah tenggelam dan penuh dengan kehadiran Allah, tanpa ada lagi ruang tersisa bagi urusan-urusan duniawi yang melalaikan.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan zikir bukan hanya sebagai kewajiban verbal, melainkan sebagai perjalanan spiritual untuk mencapai tingkatan hati yang suci. Berusahalah untuk mencapai martabat zikir yang tertinggi, agar kita dianugerahi ketenangan batin (sakinah) dan keridaan terhadap segala takdir-Nya di tengah gejolak kehidupan dunia.

Sumber: Halaqoh Maghrib Kitab Nashoihud Diniyah Ustadz Abubakar Adni Alhabsyi di Channel Youtube MJS Solo

E-Buletin