KabarMasjid.id, Surabaya – Sebuah peringatan keras bagi umat Islam di akhir zaman menjadi sorotan dalam kajian Kitab Nashoihul Ibad yang disampaikan oleh Ustad H. Ahmad Muzakki Alhafidz. Bertempat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Senin 20 Oktober 2025, Ustad Muzakki mengulas Maqalah Kedua dari Bab Khumasi, yang memuat sabda Nabi ﷺ mengenai kondisi umat yang terperangkap dalam lima kecintaan duniawi hingga mengabaikan lima kewajiban akhirat. Pembahasan ini menekankan betapa hadis tersebut telah terbukti kebenarannya di era modern.
Hadis tersebut menyatakan, “Akan datang satu zaman atas umat saya, mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara.” Ustad Muzakki menjelaskan bahwa zaman yang dimaksud, di mana manusia disibukkan oleh hal-hal fana hingga mengabaikan kewajiban abadi, kini sudah tampak di hadapan kita. Kunci dari persoalan ini terletak pada hilangnya keseimbangan dalam hidup.
Pasangan pertama yang disoroti adalah mencintai dunia (Ad-Dunya) dan melupakan akhirat (Al-Uqbah). Banyak orang disibukkan mencari harta dan kemewahan dunia tanpa memikirkan bekal di hari kemudian. Padahal, Allah sendiri mengingatkan, Wal Akhiratu Khairu wa Abqa (Sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal) dibandingkan kehidupan yang pertama.
Berikutnya, umat terlalu mencintai membangun dan menghiasi rumah (Ad-Dur), namun melupakan kubur (Al-Qubur). Orang-orang berlomba-lomba untuk mendirikan istana duniawi yang megah, sementara ‘rumah masa depan’ mereka, yaitu kuburan yang hanya berukuran 2m x 1m, terabaikan dan dilupakan. Kubur adalah alam yang tidak mengenal kemewahan.
Pasangan ketiga berkaitan dengan harta, yaitu mencintai harta (Al-Mal) dan melupakan hisab (Al-Hisab). Harta memang merupakan kendaraan yang baik untuk beribadah dan beramal saleh—Ustaz Muzakki menyebutnya sebagai Mazra’atul Akhirah (kebun akhirat)—tetapi aktivitas mengumpulkan harta seringkali membuat manusia lupa akan pertanggungjawaban di hari perhitungan.
Terkait harta, terdapat dua pertanyaan hisab yang wajib dijawab di akhirat: Min Aina (Dari mana kau dapatkan harta itu?) dan Ila Aina (Kau ke manakan harta itu?). Bahkan, Nabi Sulaiman AS, karena kekayaannya, menjadi nabi yang terakhir masuk surga akibat lamanya hisab. Inilah mengapa memastikan rezeki halal, meski sulit, merupakan hal yang krusial untuk keselamatan abadi.
Pasangan keempat adalah mencintai keluarga (Ahlil Bait), namun melupakan bidadari surga (Al-Huro). Kecintaan yang berlebihan pada keluarga duniawi, sampai-sampai membela mati-matian segala permintaannya, dapat menyebabkan kelalaian terhadap perjuangan agama. Misalnya, bersikap royal pada anak, tetapi menunggak atau kikir dalam membayar biaya pendidikan agama atau bersedekah.Pasangan terakhir yang paling fatal adalah mencintai diri sendiri (An-Nafsa) dan melupakan Allah SWT. Kondisi ini terjadi ketika seseorang hanya mengikuti kehendak nafsunya (murod anfusihim) dan meninggalkan semua perintah Allah. Akibatnya, ia akan menjadi hamba yang jauh dari rahmat Allah dan Rasulullah ﷺ, karena mengutamakan pemuasan diri daripada menunaikan tanggung jawab spiritual.
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai kiat menyeimbangkan dunia dan akhirat. Ustaz Muzakki menyarankan agar kita hidup dengan Al-Mizan (keseimbangan) yang sudah ditetapkan Allah. Memberikan hak pada setiap hal, seperti waktu salat, waktu kerja, dan waktu istirahat. Dengan meniatkan semua aktivitas sebagai ibadah, seorang suami yang pulang sore hari untuk menafkahi keluarga akan diampuni dosa-dosanya (Amsa Maghfuron Lahu).
Diskusi juga menyentuh masalah keyakinan di zaman fatrah (masa kosong kenabian antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad ﷺ). Pada masa itu, seseorang masih dibolehkan mengikuti ajaran Nabi Musa, Isa, atau Ibrahim, selama berada dalam bingkai tauhid. Namun, setelah risalah Nabi Muhammad ﷺ didengar dan tersebar, wajib bagi seluruh umat manusia untuk memeluk agama Islam.
Menanggapi pertanyaan tentang orang-orang kafir yang sulit beriman, beliau menjelaskan bahwa keberadaan mukmin dan kafir adalah bagian dari fitnah (ujian) dari Allah. Kita tidak boleh merasa hebat dan menghakimi orang kafir, sebab hidayah adalah hak prerogatif Allah. Tugas umat Islam adalah berdakwah dan fokus pada amalan diri sendiri.
Sebagai penutup, kajian ini mengajak seluruh umat untuk senantiasa berintrospeksi. Keseimbangan hidup bukan hanya slogan, melainkan amal nyata yang dapat menghindarkan kita dari ramalan Nabi ﷺ. Semoga dengan menyerap ilmu yang bermanfaat ini, kita dapat mengamalkannya dan mendapatkan husnul khatimah saat menghadap Allah SWT.
Sumber: Kajian Kitab Nashoihul Ibad oleh Ustad H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV