KabarMasjid.id, Malang – Setiap manusia pasti mempertanyakan: ke mana jiwa ini akan berlabuh setelah usai nafas terakhir? Apakah kekal dalam kenikmatan abadi atau terjerumus dalam siksa yang tak berkesudahan? Jawabannya terletak pada keadilan dan kasih sayang Ilahi, yang terekam jelas dalam Kitab Suci. Tema mendalam mengenai keabadian di akhirat inilah yang dikupas tuntas dalam Kajian Rutin Sabtu Ba’da Maghrib pada Sabtu 18 Oktober 2025, bertempat di Masjid Agung Jami Malang, yang disampaikan oleh ulama dan cendekiawan, KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi. Kajian ini memberikan panduan jernih tentang bagaimana mencapai Surga dan menghindari Neraka, khususnya melalui telaah dua ayat kunci dari Surat Al-Baqarah.
KH. Dr. Faris Khoirul Anam memulai kajian dengan menyoroti Surat Al-Baqarah ayat 81 yang membahas takdir kekal penghuni Neraka: “Bala man kasaba sayyiatun wahaatat bihi khati-atuhu fa-ula-ika ashabunnari hum fiha khalidun.” Ayat ini memberikan garis tegas bahwa barang siapa yang dosanya telah menenggelamkannya, maka ia adalah penghuni Neraka yang kekal di dalamnya. Ini adalah jawaban telak terhadap keyakinan keliru yang pernah dipegang oleh kaum Bani Israil.
Keyakinan keliru tersebut adalah asumsi bahwa siksaan Neraka hanya akan menyentuh mereka selama beberapa hari saja. Asumsi ini didasarkan pada perhitungan bahwa 7.000 tahun kehidupan di dunia setara dengan 7 hari di akhirat. KH. Dr. Faris Khoirul menekankan betapa berbahayanya keyakinan ini, sebab satu hari di Neraka yang sebanding dengan seribu atau bahkan lima puluh ribu tahun di dunia adalah siksaan yang tak tertahankan.
Oleh karena itu, setiap Muslim harus mempersiapkan diri untuk dua kemungkinan setelah meninggal: Pertama, membawa dosa yang telah diampuni; Kedua, membawa dosa yang belum diampuni. Untuk memastikan kita masuk dalam kelompok pertama, langkah krusial adalah tidak pernah berhenti mengoreksi diri. Kehadiran di majelis ilmu, seperti Majelis Taklim ini, berfungsi sebagai “scan” untuk melihat kekurangan diri yang sulit dilihat secara mandiri.
Inti dari koreksi diri adalah bertaubat, sebab Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat (at-tawwabun).” Pembicara memberikan contoh praktis bagi yang memiliki tanggungan salat Qadha (salat yang ditinggalkan dengan sengaja), yaitu segera melunasinya. Salah satu cara yang dibolehkan adalah salat dua kali (satu adaan, satu qadaan) setiap waktu salat, yang bertujuan agar utang salat segera lunas sebelum ajal menjemput.
Peringatan keras selanjutnya ditujukan kepada para pelaku dosa yang diselimuti kesombongan, terutama Al-Mujahirin—orang yang terang-terangan berbuat maksiat. Berdasarkan hadis, Al-Mujahirin dikecualikan dari ampunan Allah karena mereka tidak memiliki rasa malu dan telah menormalisasi maksiat (misalnya, mengunggah kemesraan yang tidak wajar di media sosial demi popularitas). Tindakan ini bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga meremehkan syariat dan Nabi Muhammad SAW.
Tindakan mujahirin ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam, yaitu malu (al-haya’) yang merupakan bagian dari iman (al-hayau minal iman). Sikap terang-terangan menunjukkan ketidakpedulian terhadap aturan Allah, layaknya anak yang melanggar aturan orang tua di depan mata mereka tanpa rasa hormat. Maka, menyembunyikan dosa karena rasa malu dan segera bertaubat adalah sikap seorang hamba yang masih berharap ampunan Ilahi.
Setelah membahas ancaman Neraka, kajian beralih ke harapan Surga melalui Surat Al-Baqarah ayat 82: “Walladzina amanu wa’amilus shalihati ulaika ashabul jannati hum fiha khalidun.” Ayat ini menjanjikan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah penghuni Surga dan akan kekal di dalamnya selama-lamanya.
Dijelaskan bahwa untuk menjadi penghuni Surga yang kekal, ada dua pilar yang harus dipenuhi. Pertama, Iman, yang diartikan sebagai al-ilmu wal yaqin (tahu dan meyakini) kewajiban agama. Kedua, Amal Saleh, yaitu menindaklanjuti keyakinan tersebut dengan melaksanakan perintah, seperti salat dan puasa, serta meninggalkan segala larangan. Kedua pilar ini harus berjalan beriringan.
Pasangan ayat 81 dan 82 ini mengajarkan prinsip keseimbangan dalam hidup, yaitu antara Khauf (rasa takut terhadap siksa) dan Raja’ (rasa harap akan rahmat Allah). Keduanya harus dimiliki seperti dua kepak sayap burung (kajana haid thoir). Khauf harus lebih ditekankan pada orang yang malas beribadah, sedangkan Raja’ (harapan besar) harus ditekankan saat menjenguk orang sakit atau menjelang kematian (irtihul qolbi lima huwa mahbubun), untuk menenangkan hati.
Kedua ayat tersebut juga menunjukkan Keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Balasan di akhirat adalah setimpal dengan perbuatan (Al-Jaza’ ala Qadril Amal). Pembicara mencontohkan balasan bagi orang kaya yang enggan berzakat: wajah, perut, dan punggungnya disetrika di Neraka. Siksaan ini setara dengan rasa malu fakir miskin (wajah), kelaparan mereka (perut), dan punggung mereka yang membalik pulang dengan tangan kosong (punggung).
Dengan demikian, kunci untuk mengakhiri hidup dengan Husnul Khatimah dan kekal di Surga adalah konsistensi dalam Iman, Amal Saleh, dan menjaga rasa malu dari maksiat. Kajian tentang Bani Israil (yang akan dilanjutkan pada pertemuan pekan depan) sejatinya adalah pelajaran berharga bagi Umat Nabi Muhammad SAW agar senantiasa mengikuti kebaikan dan menjauhi kesalahan umat terdahulu.
Sumber: Kajian Rutin Sabtu Ba’da Maghrib oleh KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi. di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang