Tegas dan Berintegritas: Kunci Muslim Selamat di Tengah Badai Fitnah Akhir Zaman

Kajian Ba’da Maghrib oleh Ustadz M. Yunus, S.I.P., M.Pd.I.
Kajian Ba’da Maghrib oleh Ustadz M. Yunus, S.I.P., M.Pd.I.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Hidup di era digital yang serbacepat menuntut kita untuk memiliki karakter yang kokoh. Di tengah derasnya arus informasi dan badai fitnah yang datang dari segala penjuru, seorang Muslim memerlukan pegangan kuat agar tidak terseret. Kebutuhan untuk memiliki fondasi karakter yang tidak goyah, yaitu ketegasan dan integritas, menjadi sangat mendesak. Topik inilah yang menjadi perenungan mendalam dalam Kajian Ba’da Maghrib pada Jum’at 17 Oktober 2025 di Masjid Al Falah Surabaya bersama Ustadz M. Yunus, S.I.P., M.Pd.I. beliau mengajak jemaah menelusuri bagaimana mempertahankan diri sebagai Muslim yang mampu bersikap tegas dan berintegritas sejati.

Ustadz Yunus memulai dengan menyoroti realitas yang kita hadapi: situasi masyarakat, berbangsa, dan bernegara yang kini banyak dihiasi “onak dan duri.” Bahkan, di akhir zaman ini, fitnah-fitnah kehidupan hadir begitu liar dan cepat, baik di media sosial, media cetak, maupun televisi. Kita disuguhkan berbagai narasi satir dan statement miring yang seringkali menjebak, sehingga sikap tegas dan berintegritas menjadi tameng yang wajib dimiliki.

Rasulullah Muhammad SAW sendiri telah memberikan peringatan dini mengenai kondisi ini. Beliau pernah bertanya kepada para sahabat, “Apakah engkau melihat apa yang aku lihat?” seraya menyatakan bahwa beliau melihat pintu-pintu fitnah itu di sekeliling rumah, bagaikan tempat-tempat turunnya hujan. Dahulu, hadis ini sulit dicerna, namun kini, maknanya menjadi terang benderang.

Pintu-pintu fitnah itu, yang dahulu hanya sebatas perumpamaan, kini hadir dalam wujud layar smartphone. Tidak peduli di mana kita berada, bahkan di ruang pribadi yang paling rahasia, informasi—baik yang benar maupun fitnah—bisa masuk tanpa batas. Tanpa sadar, kita rentan menjadi korban fitnah sekaligus penyebar fitnah yang baru jika tidak memiliki filter.

Oleh karena itu, sikap pertama yang harus dimiliki adalah tabayyun atau klarifikasi. Di tengah kecepatan arus informasi, seorang Muslim wajib bersikap hati-hati, melakukan check and recheck sebelum mempercayai, apalagi menyebarkan. Sikap tegas di sini berarti berani menahan jempol, tidak mudah terprovokasi, dan hanya berbagi informasi yang telah terverifikasi kebenarannya.

Ustadz Yunus kemudian menjelaskan keistimewaan yang dimiliki oleh seorang Mukmin sejati, sebagaimana digambarkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda bahwa segala urusan orang Mukmin itu menakjubkan dan semuanya baik, dan kebaikan ini hanya dimiliki oleh mereka.

Kebaikan itu terbagi dalam dua kondisi. Pertama, jika Mukmin mendapatkan kesenangan, kebahagiaan, atau kenikmatan, ia akan bersyukur (syakaro), dan sikap ini adalah baik baginya. Ia tidak lupa daratan, melainkan mengembalikan segala nikmat kepada Allah SWT. Kedua, manakala ia ditimpa kesempitan rezeki, musibah, atau ujian yang bertubi-tubi, ia akan bersabar (sobbaro), dan sikap ini pun baik baginya. Kehidupan ini seperti roda pedati, dan iman memastikan kestabilan karakternya.

Integritas, dalam konteks Muslim, adalah penjagaan sikap jujur, amanah, konsisten, dan bertanggung jawab. Ia mewujudkan penyelarasan antara pikiran, ucapan, dan perbuatan, yang semuanya didasarkan pada keimanan yang kokoh dan ketakwaan yang paripurna. Integritas inilah yang akan mencegah seseorang bertekuk lutut di bawah godaan kesuksesan maupun ancaman kriminalisasi dan stigmatisasi.

Integritas juga lahir dari kemampuan menerapkan konsep Ihsan, yaitu beribadah seolah melihat Allah, dan jika tidak mampu, meyakini bahwa Allah senantiasa melihat dan mengawasi. Ketika prinsip ini merasuk, muncul pengawasan melekat (waskat) dalam diri, sehingga seseorang tidak akan berani berbuat curang, korupsi, atau berbohong, karena keyakinan bahwa Allah SWT memonitor setiap gerak-geriknya.

Untuk mencapai dan mempertahankan ketegasan sikap serta integritas ini, Ustadz Yunus menutup kajian dengan memaparkan lima proses spiritual yang harus dilalui seorang Muslim. Proses tersebut adalah: Mu’ahadah (mengingat perjanjian tauhid dengan Allah), Mujahadah (bersungguh-sungguh dalam ibadah dan amal saleh), Muraqabah (merasa selalu diawasi), Muhasabah (evaluasi diri), dan Muaqabah (memberi sanksi pada diri sendiri).

Dengan memegang teguh lima proses spiritual ini, seorang Muslim akan mampu istikamah dan menjadi bagian dari orang-orang yang digambarkan Allah dalam Surat Al-Fath ayat 29: yang bersikap tegas terhadap kaum kafir, namun berkasih sayang sesama Mukmin (ruhamau bainahum). Semoga kita diberikan kemampuan oleh Allah SWT untuk menjadi Muslim yang Tegas dan Berintegritas.

Sumber: Kajian Ba’da Maghrib oleh Ustadz M. Yunus, S.I.P., M.Pd.I. di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya

E-Buletin