Obat Gelisah dan Korupsi: Ustadz Adi Hidayat Ungkap Dampak Shalat yang Sempurna

Kajian Ustadz Adi Hidayat di Masjid Junudurrahmah
Kajian Ustadz Adi Hidayat di Masjid Junudurrahmah

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Bandung – Saat ini, kita hidup di tengah kompleksitas zaman yang sering kali membuat kita kehilangan arah. Untuk kembali menemukan pondasi yang kokoh dalam menjalani hidup, ada baiknya kita menelisik kembali ajaran-ajaran fundamental dalam agama. Kita akan menyelami poin-poin penting dari sebuah kajian mendalam yang mengupas tuntas rahasia keselamatan dunia dan akhirat. Kajian ini disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat di Masjid Junudurrahmah dan secara live disiarkan di kanal Adi Hidayat Official pada Jum’at 10 Oktober 2025. Dalam sesi tersebut, beliau mengupas secara gamblang tentang kunci-kunci utama agar manusia dapat meraih keselamatan dan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

Menurut Ustadz Adi Hidayat, 42 Hadits yang terkandung dalam Kitab Hadits Arbain merupakan peta jalan untuk merawat tiga aspek fundamental dalam diri manusia, yakni Jiwa (Roh), Akal (Pikiran), dan Fisik (Raga). Jika ketiga pilar ini terpelihara dan berjalan harmonis, maka kehidupan seseorang akan dipenuhi kedamaian dan kemudahan.

Salah satu pelajaran penting yang disampaikan adalah tentang bagaimana sifat-sifat negatif sejatinya berfungsi sebagai katalis. Sebagai contoh, sifat marah yang dititipkan pada seseorang, jika disikapi dengan benar, akan menstimulus munculnya kesabaran pada pasangannya. Sifat-sifat buruk itu ada, bukan untuk menjadikan kita pemarah, melainkan untuk melatih ketakwaan (taqwa) agar muncul secara maksimal.

Konsep ini lantas dikaitkan dengan keseimbangan antara Taqwa dan Nafsu (Fujur), di mana keduanya disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 115 kali. Titik kegagalan dalam hidup sering terjadi ketika Akal terlalu pintar—seperti fenomena koruptor—tetapi Jiwa tidak pernah dirawat atau dikendalikan. Oleh sebab itu, membangun jiwa yang sehat melalui takwa adalah landasan yang lebih utama daripada sekadar memiliki akal yang cerdas.

Setelah pengantar tersebut, kajian memasuki pembahasan Hadits pertama, “Innamal a’malu bin niat”. Setiap perbuatan fisik (amal) yang dikerjakan manusia, cepat atau lambat, akan dievaluasi dan dipertanggungjawabkan (hisab). Kualitas dan hasil dari amal tersebut, apakah membawa kebaikan dunia dan akhirat, semuanya bergantung pada titik niat yang ada di dalam kalbu.

Kualitas niat ini memiliki tiga tingkatan: Islam (tingkat dasar/syahadat lisan), Iman (keyakinan yang meresap ke hati), dan Ihsan (tingkat tertinggi). Shalat, misalnya, tidak cukup hanya sebatas Islam (menggugurkan kewajiban), tetapi harus dinaikkan ke level Iman agar mencapai kekhusyukan dan keberkahan.

Shalat yang ditunaikan dengan benar (As-Shalah dengan alif lam) dan menggunakan Iman, akan membawa berkah atau ziadatul khair dalam kehidupan dunia. Berkah ini memiliki dampak konkret, yaitu mencegah pelakunya dari dua sumber keburukan, yaitu Fahsya (keburukan akibat syahwat, seperti zina) dan Munkar (keburukan akibat akal dan perut, seperti korupsi atau menipu).

Pembahasan berlanjut ke Hadits kedua tentang Iman. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa Iman secara bahasa berarti yakin tanpa ragu sedikit pun, dan memiliki akar kata Amana yang berarti aman. Jadi, keimanan sejati seharusnya membawa rasa aman, tenang, dan nyaman dalam menghadapi segala peristiwa hidup.

Pilar pertama dalam Rukun Iman, yaitu An tumina billah (Yakin kepada Allah), membutuhkan dua upaya untuk mencapai Makrifatullah atau merasa punya Allah. Upaya pertama adalah mencapai Ikhlas melalui tauhid yang murni (Surah Al-Ikhlas), yaitu membersihkan jiwa dari segala kotoran dan keraguan tentang keesaan Allah.

Upaya kedua untuk membangun Makrifatullah adalah melalui Ibadah, khususnya Shalat. Secara bahasa, shalat memiliki akar kata Silah (washala) yang berarti terhubung kuat. Shalat adalah latihan wajib agar manusia merasa terkoneksi dan merasa punya Allah dalam setiap langkah hidupnya, sehingga tidak ada lagi kegelisahan dan ketidaktenangan.

Kesimpulannya, Ustadz Adi Hidayat mengajak umat untuk meningkatkan kualitas ibadah agar naik dari level Islam menjadi Iman. Dengan Iman yang kuat, seseorang akan tenang saat tertimpa musibah (bersabar) dan bersyukur saat mendapatkan nikmat. Semakin tinggi takwa dan imannya, Allah akan memberikan solusi dan rezeki dari arah yang tidak terduga (min haitsu la yahtasib), menegaskan bahwa pondasi hidup adalah mengenal Tuhan yang menciptakan segalanya.

Sumber: Kajian Masjid Junudurrahmah dan secara live disiarkan di kanal Adi Hidayat Official

E-Buletin