KabarMasjid.id, Surabaya – Kehidupan modern seringkali menyeret kita dalam kesibukan duniawi yang tak berkesudahan, membuat kita lupa bahwa ada “teman” sejati yang seharusnya selalu membersamai kita. Teman itu adalah Al-Qur’an. Lantas, bagaimana cara kita mengevaluasi dan memperbaiki hubungan kita dengan kitab suci ini? Hal ini menjadi tema utama dalam “Mimbar Dhuhur” yang diselenggarakan pada Selasa 14 Oktober 2025 di Masjid Al Falah Surabaya. Kajian inspiratif ini dibawakan oleh Ustadz H. M. Ikrom Rijal, Lc., MA., di sela waktu shalat Zuhur berjamaah, mendorong setiap Muslim untuk kembali bermuhasabah terhadap interaksi mereka dengan Al-Qur’an.
Ustadz Ikrom Rijal menekankan pentingnya muhasabah atau evaluasi diri secara berkelanjutan. Seringkali, tanpa disadari, kita menjadi sibuk dengan urusan-urusan dunia hingga melalaikan perhatian kita pada Al-Qur’an. Bahkan, terkadang saat Al-Qur’an sedang dibacakan, kita justru tenggelam dalam kesibukan diri sendiri. Semakin sering kita bermuhasabah, semakin besar kemampuan kita untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam hubungan spiritual ini.
Kunci utama untuk membangun kedekatan dengan Al-Qur’an adalah konsistensi, atau istiqamah. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala, orang yang konsisten membaca Al-Qur’an (Alladzi yudawimu ala qiroatil Quran) adalah yang terbaik. Ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa perbuatan yang paling baik adalah yang terus-menerus dilakukan (ma adama), meskipun sedikit (wa inqalla).
Konsistensi ini akan membawa dampak fisik dan mental yang luar biasa. Ustadz Ikrom menjelaskan, orang yang terus membaca Al-Qur’an akan membuat lisannya tunduk (yadillu lahu lisanuhu) dan mudah untuk membacanya. Artinya, membaca Al-Qur’an akan terasa lebih ringan dan menyenangkan, bahkan dapat mempermudah lisan kita untuk terus melafalkannya.
Sebaliknya, ada konsekuensi spiritual yang terjadi jika seseorang meninggalkan bacaan Al-Qur’an. Ketika seseorang jarang membaca, ia akan merasakan berat (faqulat alaihil qiroah) untuk melanjutkannya, meskipun ia pandai dalam ilmu tajwid dan mahir membacanya. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin kita jauh dari Al-Qur’an, semakin berat pula langkah kita untuk kembali.
Bagi mereka yang merasa masih terbata-bata atau kurang lancar, Ustadz Ikrom memberikan motivasi besar berdasarkan hadis Nabi ﷺ. Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang membacanya terbata-bata (walladzi yata’ta’u) akan mendapatkan dua pahala (falahu ajrani). Pahala ini adalah pahala membaca dan pahala atas setiap usaha serta jerih payah yang dilakukan untuk memperbaiki bacaannya.
Selain konsistensi lisan, interaksi dengan Al-Qur’an juga memerlukan dua kesiapan penting: Attahyiah Al-Qalbiyah (kesiapan hati) dan Attahyiah Az-Zhiniyah (kesiapan pikiran). Seseorang yang hanya membaca dengan indah tanpa mengaitkannya pada hati dan pikiran akan merasa kurang siap, dan inilah yang membuat bacaan terasa berat.
Seringkali, ciri-ciri rasa berat dalam membaca adalah keinginan untuk cepat selesai. Ustaz Ikrom mengingatkan, jangan sampai keinginan terbesar kita saat membaca adalah ingin cepat mengakhiri surat (akhir surah). Beliau mengutip riwayat dari Imam Baihaqi: “Bacalah Al-Qur’an dan gerakkan hati kalian dengannya.” Jika hanya mengejar target selesai, manfaat dan ketenangan (sakinah) dari setiap huruf akan terlewatkan.
Untuk mencontoh kecintaan pada Al-Qur’an, kita dapat meneladani Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Sungguh aku sangat membenci datangnya padaku suatu hari yang pada hari itu aku tidak melihat mushaf (la anzuru fil mushafi).” Saking seringnya beliau melihat dan memegang Al-Qur’an, mushaf beliau saat meninggal dunia sampai lecet dan lusuh (khaliq mushafuhu), yang menunjukkan intensitas interaksi beliau dengan Kalamullah.
Manfaat tertinggi dari menyibukkan diri dengan Al-Qur’an akan diraih di akhirat. Di sana, Al-Qur’an akan diserupakan sebagai seorang sahabat yang menyapa kita. Ia akan berkata, “Ana shahibuka Al-Qur’an” (Aku adalah temanmu, Al-Qur’an). Oleh karena itu, di sisa hidup ini, kita harus berupaya menjadi teman akrab Al-Qur’an, bukan hanya sekadar mengenalnya.
Sebagai penutup, Ustadz Ikrom Rijal mengajak kita untuk terus mengevaluasi diri. Apabila kita merasa sulit membaca Al-Qur’an selama dua atau tiga hari berturut-turut, kemungkinan ada dosa yang belum kita tinggalkan, karena dosa bisa menjadi penghalang. Beliau juga menyarankan untuk memanfaatkan kemudahan saat ini, seperti aplikasi mushaf digital, atau mendengarkan rekaman Al-Qur’an jika tidak bisa membaca. Jadikanlah setiap waktu sebagai momen untuk terkoneksi dengan Al-Qur’an dengan niat tulus agar kelak kita selamat dan mendapatkan syafaat darinya.
Sumber: MIMBAR DHUHUR – USTADZ H. M. IKROM RIJAL, Lc., MA. di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya