KabarMasjid.id, Sidoarjo – Mempelajari hadis Arbain Nawawi merupakan salah satu cara paling fundamental untuk memahami esensi ajaran Islam. Hadis-hadis yang ringkas namun padat makna ini menjadi pilar utama dalam akidah dan syariat. Mendalami salah satu hadis terpenting, yakni Hadis ke-2, menjadi fokus utama dalam Kajian Rutin yang disampaikan oleh KH. Ahmad Mujab Muthohhar atau lebih akrab disapa Gus Mujab pada Minggu 12 Oktober 2025 di Langgar Darussalam, Kraton Krian Sidoarjo. Kajian ini mengupas tuntas dialog legendaris antara Malaikat Jibril dengan Rasulullah ﷺ yang menjelaskan tiga fondasi agama: Islam, Iman, dan Ihsan.
Hadis ke-2 yang diriwayatkan oleh Sahabat Umar bin Khattab Ra. ini diawali dengan kisah tak terduga. Saat para sahabat berkumpul bersama Rasulullah, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang memiliki ciri fisik mencolok: pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Kehadirannya menimbulkan tanda tanya besar, sebab tidak tampak padanya tanda-tanda musafir, namun tidak pula ada satu pun sahabat yang mengenalnya.
Laki-laki misterius itu kemudian duduk sangat dekat dengan Nabi, menempelkan lututnya pada lutut Nabi, dan langsung melontarkan pertanyaan: “Ya Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Nabi Muhammad ﷺ lalu menjelaskan rukun Islam yang lima, yakni bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah (syahadat), mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu. Setelah mendengar jawaban tersebut, laki-laki itu berkata, “Engkau benar,” yang semakin membuat para sahabat terheran-heran.
Khusus mengenai rukun kedua, Gus Mujab menyoroti perintah “Iqomus Sholah” atau mendirikan salat. Ia menjelaskan bahwa mendirikan salat tidak sekadar melaksanakan, tetapi juga menjaga syarat dan rukunnya, serta yang terpenting adalah melaksanakan secara istiqamah (al-muwadobah ‘alaiha). Salat adalah ibadah yang harus menjadi prioritas, membedakan antara yang benar-benar ahli ibadah dan yang hanya menggugurkan kewajiban.
Gus Mujab kemudian membagi waktu salat menjadi tiga: waktu afdhal (di awal waktu), waktu jawaz (waktu boleh), dan waktu karahah (waktu makruh). Beliau juga mengutip sebuah riwayat tentang tiga kelompok ahli salat di Padang Mahsyar, yang cahayanya berbeda: secerah Matahari (bagi yang bersiap di masjid sebelum azan), secerah Rembulan (bagi yang berwudu setelah mendengar azan), dan secerah Bintang (bagi yang baru berwudu saat azan). Ini menunjukkan pentingnya bersegera dalam menyambut panggilan salat.
Pertanyaan kedua dari Jibril adalah mengenai Iman. Nabi menjawab bahwa Iman adalah percaya kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir Allah, baik takdir yang baik maupun yang buruk. Beliau juga mengingatkan bahwa Malaikat adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya, tidak berjenis kelamin, dan tidak pernah tidur.
Di antara rukun iman, Gus Mujab mengulas tentang Kitab Suci, di mana Allah menurunkan 104 kitab, namun yang wajib diimani hanya empat (Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an). Mengenai Hari Akhir, beliau menjelaskan bahwa hari kiamat disebut Yaumul Akhir (Hari Akhir) karena setelah hari tersebut, tidak ada lagi malam (la laila ba’da)—yang ada hanyalah terang benderang.
Setelah menanyakan Islam dan Iman, laki-laki itu beralih pada pertanyaan tentang Ihsan. Nabi ﷺ menjelaskan makna Ihsan sebagai: “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu, maka yakinilah bahwa Allah melihatmu.” Ihsan memiliki tiga tingkatan, yang tertinggi adalah Maqam Musyahadah (merasa melihat Allah) dan Maqam Muraqabah (yakin diri diawasi Allah).
Pertanyaan terakhir yang diajukan adalah tentang Kiamat, yang dijawab oleh Nabi bahwa baik yang bertanya maupun yang ditanya tidak lebih mengetahui tentang waktu pastinya. Namun, Nabi menyebutkan dua tanda utama. Tanda pertama adalah “Apabila budak perempuan melahirkan tuannya,” yang oleh para ulama dimaknai sebagai lahirnya pemimpin-pemimpin (orang terhormat) dari garis keturunan rakyat biasa.
Tanda Kiamat yang kedua dan paling nyata saat ini adalah “Engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang (miskin), dan menggembala kambing, berlomba-lomba meninggikan bangunan.” Gus Mujab menghubungkan tanda ini dengan realitas di Timur Tengah, khususnya negara-negara teluk, di mana masyarakat yang dulunya hidup sederhana dan menggembala kini menjadi kaya raya berkat minyak dan berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit tertinggi di dunia.
Akhirnya, Nabi Muhammad ﷺ mengungkap identitas laki-laki itu kepada Umar: “Itu adalah Jibril, yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” Kesimpulan dari Hadis ke-2 ini adalah penegasan bahwa Jibril datang bukan untuk bertanya, melainkan untuk memberikan pelajaran penting mengenai dasar-dasar agama kepada para sahabat, menunjukkan bahwa bertanya dalam majelis ilmu memiliki manfaat besar bagi orang lain yang mendengarkan.
Sumber: Kajian Rutin Arbain Nawawi oleh KH. Ahmad Mujab Muthohhar di Channel Youtube Annawawi Ampel