KabarMasjid.id, Solo – Setiap manusia dihadapkan pada dua pilihan jalan hidup yang akan menentukan nasibnya di hadapan Allah: jalan yang dipenuhi kesabaran dan perjuangan, atau jalan yang diselimuti fatamorgana duniawi. Pilihan ini, yang akan menentukan apakah kita tergolong orang yang merugi atau yang beruntung, menjadi inti pembahasan dalam Majelis Salaf Rouhah Siang. Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir Surah An-Nahl ini dibawakan oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi, dan dilaksanakan di Masjid Riyadh Solo pada hari Jumat, 11 Oktober 2025. Kajian kali ini berfokus pada perbandingan mendalam antara dua kelompok manusia di mata Allah: mereka yang merugi karena mengejar dunia dan mereka yang beruntung karena memilih jalan hijrah dan kesabaran.
Kajian dimulai dengan pembahasan sifat-sifat orang yang akan mendapatkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka dikategorikan sebagai orang-orang yang mengedepankan kecintaan terhadap dunia (istahabbul hayatad dunya alal akhirah) di atas urusan akhirat.
Sikap mendahulukan dunia ini berdampak fatal, membuat Allah tidak akan memberikan hidayah kepada mereka. Hati, telinga, dan pandangan mereka akan ditutup sehingga senantiasa dilalaikan oleh Allah. Pada akhirnya, mereka akan tergolong sebagai orang-orang yang merugi (alkasirun) di akhirat kelak.
Sebagaimana kebiasaan dalam Al-Qur’an, setelah menjelaskan kelompok pertama, Allah beralih menjelaskan kelompok kedua, yaitu orang-orang yang berhijrah (lilladzina hajaru). Kelompok ini adalah para sahabat dan orang beriman yang berjuang di awal Islam, di mana mereka disiksa, difitnah, dan dikucilkan oleh kaum musyrikin.
Mereka rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga demi menyelamatkan keimanan, berjuang (jihad), dan bersabar di tengah keasingan. Atas dedikasi ini, Allah menjanjikan ampunan dan kasih sayang (lagfurur rahim) bagi mereka.
Ustadz Ali menekankan bahwa konsep hijrah tidak terbatas pada perpindahan fisik, tetapi juga relevan dalam kehidupan Muslim modern. Hijrah mencakup tindakan meninggalkan kebiasaan buruk, lingkungan yang tidak mendukung kebaikan, hingga sahabat yang menjerumuskan. Selain itu, hijrah juga berarti berjihad melawan hawa nafsu dan segala godaan dunia yang diharamkan Allah.
Lebih lanjut, kajian juga menyinggung tentang pentingnya isti’adah (mengucapkan A’uzubillahiminasyaitanirrajim) sebelum membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kebenaran yang nyata (haqqul mubin), sehingga pekerjaan setan akan semakin intensif untuk menimbulkan keraguan (syubuhat) dan was-was, agar kita tidak fokus dan khusyuk.
Manusia diminta untuk tidak berpasrah diri hanya pada kekuatan sendiri, melainkan harus meminta pertolongan dan perlindungan dari Allah. Membaca isti’adah adalah bentuk pengakuan bahwa kekuatan sejati hanya milik Allah (La Haula Wala Quwwata Illa Billah), sehingga kita dapat fokus dan merenungi isi Al-Qur’an dengan baik.
Kajian kemudian menggambarkan dahsyatnya kondisi di hari Kiamat, di mana setiap manusia akan tersibukkan dengan dirinya sendiri (tujadilu nafsiha), tidak memikirkan orang lain. Bahkan, di hari itu, digambarkan bahwa seorang anak akan lari dari orang tuanya, begitu pula sebaliknya, karena ketakutan yang dialami.
Namun, di tengah kesibukan universal ini, hanya ada satu makhluk termulia yang akan memikirkan umatnya: Rasulullah ﷺ, dengan panggilan “Umati-Umati.”. Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk membahagiakan dan mengedepankan apa yang diinginkan Rasulullah ﷺ selama di dunia, agar kelak kita termasuk yang dipikirkan dan mendapat syafaatnya.
Sebagai penutup, Ustadz Ali menyampaikan perumpamaan suatu kaum yang awalnya hidup dalam kenikmatan, keamanan, dan rezeki melimpah dari segala arah. Akan tetapi, karena kekufuran mereka terhadap nikmat Allah, kenyamanan tersebut diganti dengan bala bencana, berupa rasa lapar dan ketakutan (al-juu’i wal khauf), yang membuat hidup mereka kehilangan ketentraman.
Sumber: Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi di Channel Youtube Masjid Riyadh Solo