Keteladanan Orang Tua: Investasi Dunia Akhirat dan Posisi Mulia dalam Islam

Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc., M.Sos.
Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc., M.Sos.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Kewajiban orang tua tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga mencakup pembentukan karakter dan spiritual anak-anak, yang berawal dari keteladanan. Hal ini menjadi topik utama dalam kajian Maghrib yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc., M.Sos., pada Kamis 9 Oktober 2025 di Masjid Al Falah Surabaya. Dalam sesi yang merupakan kelanjutan dari tema keteladanan sebelumnya, Ustadz Muiz menggarisbawahi posisi strategis orang tua sebagai figur utama yang menentukan masa depan anak, baik di dunia maupun akhirat.

Dalam pandangan Islam, kedudukan orang tua diletakkan pada tempat yang sangat mulia. Ustadz Muiz merujuk pada Surah Al-Isra’ ayat 23-24, di mana Allah SWT menempatkan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua (wabil walidaini ihsana) tepat setelah perintah untuk tidak menyembah kecuali kepada-Nya (alla ta’budu illa iyah). Urutan ini menunjukkan betapa besar dan pentingnya hak orang tua dalam agama.

Sikap yang dituntut kepada anak bukanlah sekadar berbuat baik biasa, melainkan berbuat ihsan. Kata ihsan (dari ahsana yuhsinu ihsan) diartikan sebagai sikap yang terbaik, bukan hanya sekadar ala kadarnya. Semakin seorang anak memuliakan orang tuanya, semakin Allah SWT akan memuliakan dirinya. Ini adalah kaidah timbal balik spiritual yang dijanjikan.

Ustadz Muiz menekankan bahwa perilaku berbakti kepada orang tua (birrul walidain) akan berdampak langsung pada kualitas anak-anak kita. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Birru abaakum yabirrukum auladukum” (Berbaktilah kamu kepada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu). Jika orang tua merasa kesulitan dalam mendidik anak, mereka dianjurkan untuk bercermin, jangan-jangan selama ini sikap kita terhadap orang tua kita sendiri masih kurang baik.

Islam sangat menjaga perasaan orang tua. Oleh karena itu, dalam Surah Al-Isra’ juga terdapat larangan tegas untuk berkata kasar, bahkan sekadar mengucapkan kata “uf” (fala takahuma uf), yang merupakan perkataan kasar yang dapat menyakiti perasaan. Sebaliknya, anak wajib berkata kepada orang tua dengan perkataan yang mulia (qulan karimah), menggunakan bahasa yang lembut, sopan, dan memuliakan.

Beralih ke tanggung jawab orang tua, Ustadz Muiz mengutip Surah At-Tahrim ayat 6: “Ya ayyuhalladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum na” (Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka). Perintah ini dimulai dari diri sendiri (qu anfusakum), yang menuntut orang tua untuk introspeksi. Tidak boleh terjadi inkonsistensi, di mana orang tua menyuruh anak melakukan A, sementara mereka sendiri melakukan C.

Dalam teori pendidikan Islam, tanggung jawab mendidik anak pertama kali diemban oleh orang tua, bukan sekolah. Sekolah hanya bertindak sebagai delegasi atau mitra yang menjalankan peran yang tidak mampu dilakukan orang tua (misalnya karena kesibukan kerja atau tidak menguasai semua aspek pengetahuan). Oleh karena itu, sinergi dan komunikasi antara orang tua dan sekolah menjadi sangat penting.

Saat ini, tantangan bagi orang tua menjadi semakin berat. Anak-anak mendapatkan referensi yang sangat beragam, seperti dari TikTok, YouTube, dan media sosial lainnya, yang bisa dijadikan pembanding. Orang tua adalah figur pertama dan sumber inspirasi bagi anak-anak. Karena itu, orang tua harus memahami dunia anak-anak zaman sekarang agar komunikasi tetap nyambung, sambil tetap memberikan bimbingan dan pendampingan.

Ustadz Muiz juga menegaskan peran Ayah sebagai penanggung jawab utama dan nahkoda rumah tangga (warajulu roin fi alihi). Kewajiban utama suami adalah mencari nafkah yang halal. Perjuangan mencari rezeki yang halal ini adalah jihadnya suami, dan pahalanya sangat besar. Istri kemudian berbagi peran dengan bertanggung jawab pada rumah tangga, menjaga anak-anak, serta harta suami.

Keluarga—termasuk istri dan anak—adalah amanah atau kepercayaan dari Allah SWT. Karena statusnya sebagai amanah, orang tua harus betul-betul menjaga keutuhan rumah tangga. Ustadz Muiz secara khusus mengingatkan agar suami istri tidak bertengkar atau menjelek-jelekkan pasangan di depan anak, karena hal itu dapat merusak karakter anak yang menangkap situasi tersebut secara langsung.

Anak yang saleh dan salihah adalah investasi (saham) terbaik bagi orang tua. Dalam Islam, dijanjikan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, pahalanya akan terus mengalir jika ia meninggalkan tiga hal, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya (waladin shihin yada). Investasi ini jauh lebih berharga daripada harta kekayaan dunia.

Sebagai penutup, Ustadz Muiz memberikan nasihat yang menghangatkan: jika orang tua merasa sudah “terlambat” dalam mendidik atau menyadari kesalahan, jangan cepat-cepat menyalahkan anak. Ia menyarankan untuk banyak beristigfar, diikuti dengan ikhtiar kebaikan. Yang paling penting, orang tua jangan pernah ragu untuk meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang telah diperbuat, karena hal itu justru menjadi teladan berani bertanggung jawab dan membangun dialog yang terbuka.


Sumber: KAJIAN MAGHRIB – Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc., M.Sos. di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya

E-Buletin