KabarMasjid.Id, Malang – Setiap muslim tentu mendambakan ketakwaan, tetapi seringkali perjalanan spiritual kita terhambat oleh kesalahan-kesalahan kecil yang luput dari perhatian. Untuk menjawab kegelisahan ini, sebuah renungan penting mengenai prinsip kehati-hatian dalam ibadah dan bahaya meremehkan dosa telah disampaikan dalam sebuah Khutbah Jumat yang dibawakan oleh Dr. KH. Marzuqi Mustamar, M.Ag pada 10 Oktober 2025 di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, Malang.
KH. Marzuqi Mustamar memulai khutbahnya dengan sebuah analogi yang tajam: kebanyakan orang terjatuh bukan karena menabrak batu besar, melainkan karena kesandung kerikil kecil. Analogi ini membawa pada pembahasan mengenai dosa. Seseorang bisa terperangkap dalam murka Allah SWT tidak harus semata-mata karena melakukan dosa besar, melainkan justru karena perbuatan maksiat kecil yang diremehkan dan dianggap sepele. Karena itu, sebuah prinsip fundamental harus selalu diingat: kebaikan sekecil apapun, bahkan sebutir debu, akan ada balasannya, begitupun dengan dosa maksiat.
Berangkat dari bahaya meremehkan hal kecil, khutbah ini menekankan pentingnya menerapkan prinsip al-ikhtiyat atau kehati-hatian dalam setiap aspek kehidupan seorang muslim. Dalam kaidah fikih, hal ini dikenal dengan kalimat “Al-Aslu fil Ibadah Al-Ikhtiyat”, yang berarti pada dasarnya ibadah itu harus didasarkan pada prinsip kehati-hatian. Prinsip ini wajib diterapkan dengan sangat ketat, sebab sekali lagi, kesalahan kecil yang diremehkan dapat menjatuhkan seseorang pada murka ilahi.
Penerapan pertama dari prinsip kehati-hatian ini adalah dalam hal mencari ilmu dan memilih guru. KH. Marzuqi Mustamar menekankan bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam menyeleksi siapa yang menjadi panutan dan tempat menuntut ilmu. Pilihlah guru yang benar-benar alim (berilmu), memiliki akidah yang lurus, serta yang paling utama adalah guru yang bersanad (memiliki sanad keilmuan) dan berpegang teguh pada ajaran Ahlusunah wal Jamaah agar tidak terjerumus pada aliran-aliran sesat yang menyimpang.
Kehati-hatian juga harus mutlak diterapkan dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari. Mulai dari wudu, bersuci dari najis, hingga gerakan dan bacaan salat, semua tidak boleh dilakukan secara ceroboh (sembrono). Setiap rukun dan sunah harus diperhatikan dengan teliti. Contoh sederhana seperti memastikan cara makan menggunakan tangan kanan, membaca bismillah di awal, dan mengucap alhamdulillah di akhir, adalah bentuk-bentuk ketaatan kecil yang harus dirawat untuk menghindari kecerobohan yang dapat mengurangi nilai atau bahkan merusak ibadah.
Untuk semakin membumikan prinsip kehati-hatian, KH. Marzuqi Mustamar kemudian menjelaskan sebuah riwayat dari ulama mengenai tiga perkara yang dirahasiakan Allah SWT dalam tiga perkara (Innallaha Akhfa Salasan fi Salasin). Dua di antaranya adalah keridaan-Nya dan murka-Nya. Keridaan Allah (Ridhlo) dirahasiakan dalam ketaatan. Terkadang perbuatan besar belum tentu diridai, namun sebuah senyuman atau sedekah kecil justru yang mendatangkan rida ilahi. Sebaliknya, Murka Allah (Ghadab) dirahasiakan dalam kemaksiatan. Dosa kecil yang kita anggap enteng, bisa jadi merupakan saat di mana murka-Nya sedang diturunkan.
Rahasia ketiga yang dijaga Allah adalah Wali-Nya (Auliya’) yang disembunyikan di antara seluruh ciptaan-Nya. Poin ini menjadi peringatan tegas agar umat Islam menjauhi sikap menghina, mencemooh, atau memfitnah orang lain. Seseorang yang terlihat biasa saja, bahkan hanya seorang kuli atau tukang, bisa jadi adalah Wali Allah yang rajin tahajud atau puasa sunah. Khatib bahkan mengutip Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Siapa memusuhi waliku, maka aku izinkan orang itu diperangi,” menunjukkan betapa berbahayanya meremehkan seorang hamba yang dekat dengan Allah.
Sebagai penutup, pesan utama khutbah ini adalah sebuah keseimbangan. Seorang muslim harus bersemangat melakukan amal yang besar dan menjauhi dosa yang besar, namun yang paling krusial adalah tidak sekali-kali meremehkan amal kebaikan yang kecil. Sekecil apapun kebaikan, ia tetaplah benih pahala, sebagaimana sabda Nabi, “Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, meskipun hanya senyuman ketika bertemu teman.” Semoga Allah SWT membimbing kita semua untuk selalu berhati-hati, melakukan yang terbaik, dan mengakhirinya dengan husnul khatimah.
Sumber: Khutbah Jum’at yang dibawakan oleh Dr. KH. Marzuqi Mustamar, M.Ag disiarkan di Channel Youtube PonpesgasekTV