KabarMasjid.Id, Malang – Dunia modern sering kali menjebak kita dalam hiruk-pikuk kesibukan yang kering spiritualitas. Untuk menyeimbangkan langkah dan memperkokoh iman, umat Islam dianjurkan untuk selalu kembali kepada majelis ilmu, tempat hati dicuci dan akhlak dibina. Melalui majelis ini, kita disadarkan bahwa kesalehan sejati tidak hanya diukur dari kuantitas ibadah, melainkan juga dari kualitas interaksi kita dengan Allah SWT dan sesama manusia. Inilah esensi yang selalu dihidangkan dalam setiap pengajian rutin para ulama dan habaib.
Salah satu oase spiritual yang rutin hadir adalah gelaran pengajian Ba’da Maghrib setiap hari Rabu yang diselenggarakan oleh Masjid Agung Jami Malang. Dalam majelis ilmu yang berlangsung pada Rabu 8 Oktober 2025, jamaah berkesempatan menyimak tausiyah dari sosok mulia, yaitu Al Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid. Beliau, dengan keluasan ilmunya, mengajak para hadirin merenungi kembali pondasi ajaran agama, fokus pada pembangunan karakter dan tata krama (adab) sebagai kunci meraih keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
Habib Muchsin dalam ceramahnya sering kali menekankan bahwa adab merupakan mahkota bagi setiap Muslim. Adab diletakkan lebih tinggi daripada ilmu. Sebab, tanpa adab, ilmu yang setinggi langit sekalipun akan kehilangan cahayanya dan tidak mampu memberi manfaat optimal bagi pemiliknya. Adab adalah manifestasi rasa hormat, baik kepada Allah, Rasul-Nya, kepada sesama manusia, maupun kepada lingkungan di sekitar kita, termasuk tempat-tempat ibadah.
Pilar adab yang pertama, menurut ajaran Rasulullah SAW, adalah pentingnya kebersihan (nadhofah). Kebersihan bukan sekadar urusan estetika lahiriah, melainkan bagian intrinsik dari keimanan. Allah adalah Dzat yang Maha Bersih dan mencintai kebersihan. Oleh karena itu, kita sebagai hamba wajib menjaga kesucian diri, baik dalam wudu, mandi, maupun dalam pakaian yang kita kenakan sehari-hari.
Bahkan, menjaga kebersihan ini memiliki dimensi spiritual yang dalam, terutama saat menghadap Allah SWT dalam salat. Habib Muchsin mengingatkan agar kita tidak lalai dalam memilih pakaian terbaik dan terbersih untuk beribadah. Pakaian yang dikenakan saat salat seharusnya tidak hanya menutup aurat, tetapi juga mencerminkan penghormatan tertinggi kepada Sang Pencipta, bukan hanya sekadar sarung yang dikenakan selama bertahun-tahun tanpa pernah dicuci atau diganti.
Namun, kebersihan lahiriah hanyalah pintu gerbang. Lebih fundamental dari itu adalah pembersihan hati (tazkiyatun nufs). Hati diibaratkan cermin; jika ia kotor oleh penyakit-penyakit batin seperti kesombongan, hasad, riya, dan ujub, maka ia tidak akan mampu menerima pantulan cahaya hidayah dan ilmu dari Allah.
Penyakit hati ini adalah penghalang terbesar bagi kita untuk meraih istiqamah dan kedekatan dengan Allah. Salah satu wujud kesombongan adalah merasa lebih baik dari orang lain atau merasa malu untuk mengakui dosa. Padahal, pengakuan dosa dan penyesalan adalah langkah pertama menuju ampunan ilahi.
Dalam sebuah kisah, beliau menceritakan tentang seseorang yang datang kepada Nabi SAW untuk didoakan agar dosanya diampuni. Ketika ditanya dosanya, ia malu menceritakannya kepada Nabi. Nabi pun menegurnya dengan pedih, “Kamu berbuat dosa tidak malu kepada Allah, tetapi sekarang malu kepada saya?” Kisah ini mengajarkan bahwa meskipun kita merasa berdosa, malu yang berlebihan kepada makhluk hingga menahan diri dari bertaubat sesungguhnya adalah bentuk ketidakmampuan menghadapi realitas dosa di hadapan Allah. Beruntunglah orang yang memiliki kebiasaan baik, sebab Allah Maha Pengampun.
Adab juga mencakup perilaku kita di tempat ibadah. Majelis ilmu dan masjid adalah rumah Allah yang harus dihormati. Habib Muchsin memberikan contoh nyata mengenai etika dalam majelis, termasuk adab berinteraksi dengan orang lain, dan terutama, menjaga kesucian mulut saat akan salat.
Misalnya, mengenai adab kebersihan mulut sebelum salat, khususnya setelah merokok. Bau yang tidak sedap dapat mengganggu jamaah di sebelah kita dan malaikat yang hadir. Karenanya, disunnahkan untuk bersiwak atau membersihkan mulut, sebagai bentuk penghormatan kepada Allah dan upaya menciptakan suasana khusyuk bagi diri sendiri dan orang lain.
Lebih lanjut, Habib Muchsin menekankan pentingnya mencintai ilmu dan ulama. Tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang adalah kecintaan orang tersebut kepada majelis ilmu dan orang-orang saleh. Sebaliknya, menjauhi ilmu dan ulama dapat menjadi pertanda bahwa Allah tidak menghendaki kebaikan pada diri orang tersebut, sehingga sangat penting untuk memilih teman bergaul yang saleh.
Mewarisi ilmu dan adab jauh lebih berharga daripada mewarisi harta. Harta benda duniawi akan habis dimakan waktu, tetapi ilmu dan adab yang ditanamkan pada anak cucu adalah warisan abadi yang akan terus mengalirkan pahala bahkan setelah kita meninggal. Inilah investasi spiritual yang sesungguhnya.
Dengan menjaga kebersihan lahir dan batin, mempraktikkan adab dalam setiap aspek kehidupan, serta senantiasa mendekat kepada majelis ilmu, kita berharap dapat menjadi pribadi yang istiqamah dan dicintai Allah SWT. Semoga setiap ilmu yang didapatkan dari majelis Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid ini menjadi bekal yang bermanfaat, berkah, dan diterima oleh Allah sebagai amal saleh yang mempermudah jalan kita menuju surga.
Sumber: Habib Muchsin bin Ali Al bin Hamid di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang