Kunci Bahagia Dunia Akhirat: Memuliakan Diri dengan Wirid Al-Qur’an

Pengajian Rutin Ba'da Maghrib di Masjid Jami' Malang oleh Ustadz H. Achmad Sulton Rofii.
Pengajian Rutin Ba'da Maghrib di Masjid Jami' Malang oleh Ustadz H. Achmad Sulton Rofii.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Semua orang mendambakan kebahagiaan sejati, bukan hanya kenikmatan sesaat, tetapi ketenangan abadi yang membawa berkah dalam kehidupan. Jalan menuju kebahagiaan ini telah digariskan oleh para ulama melalui amalan-amalan mulia, salah satunya adalah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup. Hal ini menjadi pembahasan utama dalam Pengajian Rutin Ba’da Maghrib yang diselenggarakan oleh Masjid Agung Jami Malang pada hari Selasa 7 Oktober 2025, dengan narasumber Ustadz H. Achmad Sulton Rofii.

Kajian ini merujuk pada kitab Risalatul Muawanah karya Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Ustadz Rofii menekankan bahwa setiap mukmin dianjurkan memiliki wirid atau amalan rutin yang dilakukan secara konsisten, murni karena Allah. Setelah membahas salat sunah, ulama besar ini melanjutkan nasihatnya mengenai amalan wirid yang paling agung: wirid membaca Al-Qur’an.

Wirid membaca Al-Qur’an ini bukanlah sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan spiritual untuk menata hati dan meraih kemuliaan. Wirid ini menuntut adanya amalan rutin membaca Al-Qur’an setiap hari dan malam, berlanjut dari awal hingga khatam, lalu diulang kembali. Amalan inilah yang disebut sebagai al-halul murtahil, yaitu amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT.

Sungguh, membaca Al-Qur’an adalah perniagaan yang tak pernah merugi. Pahala yang dijanjikan begitu besar, tidak dihitung per ayat, melainkan per huruf. Rasulullah SAW bersabda, satu huruf Al-Qur’an akan menghasilkan satu kebaikan, yang kemudian dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan. Bahkan, saat mengucapkan Alif Lam Mim, kita sudah meraih 30 kebaikan karena dihitung sebagai tiga huruf terpisah.

Lebih dari sekadar pahala, Al-Qur’an adalah Nur Mubin (cahaya yang nyata) yang memiliki pengaruh luar biasa dalam menyinari hati (tanwiril qolbi). Hati yang bercahaya akan mudah membedakan mana yang hak dan mana yang batil, sehingga hidup terasa tentram dan penuh petunjuk, menjauhkan dari kebingungan dan kegelapan batin.

Cahaya Al-Qur’an ini tidak hanya menerangi hati individu, tetapi juga rumah tempat kita tinggal. Nabi Muhammad SAW berpesan, “Sinari rumah-rumah kalian dengan salat sunah dan tilawatil Qur’an.” Rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an akan menjadi tempat yang penuh keberkahan dan ketenangan.

Ustadz Rofii menjelaskan, rumah yang sering dibacakan Al-Qur’an akan didatangi oleh malaikat yang membawa rahmat. Kehadiran malaikat ini otomatis membuat setan menjauh dan tidak berani masuk. Hal ini menjadikan suasana rumah terasa luas, damai, serta banyak kebaikannya (barokah) dan sedikit kejelekannya.

Sebaliknya, rumah yang ditinggalkan dari bacaan Al-Qur’an akan menjadi sarang bagi setan. Akibatnya, rumah itu akan terasa sempit bagi penghuninya, malaikat enggan mendekat, dan sedikit kebaikannya serta banyak kejelekannya. Keadaan ini yang sering memicu pertengkaran, kecemburuan, dan ketidakbetahan, yang merupakan pekerjaan utama setan.

Kemuliaan Al-Qur’an juga dirasakan oleh orang tua. Rasulullah SAW menyebutkan, orang tua yang memiliki anak ahli Al-Qur’an yang mengamalkan isinya, kelak di hari kiamat akan dipakaikan mahkota cahaya yang sinarnya melebihi cahaya matahari. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan ahli Qur’an di sisi Allah SWT.

Pahala membaca Al-Qur’an pun berbeda-beda tergantung kondisi pembacanya. Membaca Al-Qur’an saat berdiri dalam salat akan mendapatkan 100 kebaikan per huruf. Membacanya saat duduk dalam salat mendapat 50 kebaikan per huruf. Bahkan, di luar salat dengan keadaan berwudu mendapat 25 kebaikan, dan tanpa berwudu pun tetap mendapat 10 kebaikan per huruf.

Tanda seseorang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah kecintaannya pada Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya.” Ini adalah jaminan terbaik dari Nabi bagi siapa saja yang ingin menjadi manusia paling mulia.

Oleh karena itu, mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai wirid harian, menyempatkan waktu untuk membaca, belajar, dan mengajarkannya. Dengan memuliakan Al-Qur’an, kita tidak hanya menumpuk pahala, tetapi juga menjamin kebahagiaan dan keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, serta rumah yang kita tinggali.

Sumber: Pengajian Rutin Ba’da Maghrib Hari Selasabersama Ustadz. H. Achmad Sulton Rofii di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang

E-Buletin