Titik Temu Kehendak Ilahi dan Dorongan Hati Manusia: Kunci Hidup Bahagia

Kajian Ahad Subuh oleh Ustadz H. Mulyani Taufiq M.HI
Kajian Ahad Subuh oleh Ustadz H. Mulyani Taufiq M.HI

Bagikan postingan :

KabarMasjid.Id, Surabaya – Setiap manusia pasti pernah merasa hidupnya ruwet dan penuh masalah. Seringkali, keruwetan ini bermuara pada satu hal: ketidakmampuan kita dalam mengendalikan berbagai keinginan dan dorongan yang terbersit dalam hati, atau yang dalam khazanah Islam disebut sebagai Khotor Insani. Keinginan inilah yang menjadi subjek utama dalam kajian subuh oleh Ustadz H. Mulyani Taufiq M.HI pada Minggu 5 Oktober 2025 di Masjid Al Falah Surabaya.

Menurut Ustadz Mulyani, seorang psikolog ternama, Abraham Maslow, pernah menyebut bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta, harga diri, hingga aktualisasi diri. Sederet kebutuhan ini jika tidak dikelola dengan baik, dapat menjadi sumber kekacauan dan kesusahan dalam hidup.

Seorang Muslim memiliki tuntunan agar semua keinginan duniawi tersebut diarahkan menuju nilai ubudiyah (pengabdian kepada Allah SWT). Perbedaan antara kekayaan yang dicari oleh seorang Muslim dengan non-Muslim adalah, dalam Islam terdapat hak orang lain yang harus dipenuhi, sehingga kekayaan itu menjadi berkah dan tidak egois.

Kajian ini kemudian mengajak kita menilik sumber dari setiap dorongan hati yang muncul. Dalam ilmu tasawuf, dorongan atau khotor ini dapat dibedakan menjadi empat jenis, dan pengenalan terhadap sumbernya adalah langkah awal untuk mencapai titik temu kehendak ilahi.

Pertama, ada Khotor Ilahi atau Khotor Rahmani. Ini adalah dorongan yang murni datang dari Allah SWT, tanpa campur tangan malaikat maupun setan. Dorongan ini merupakan Hidayah atau Taufiq, seperti keinginan untuk beriman, mengenal Allah, atau kembali kepada ajaran Islam setelah tersesat.

Kedua, ada Khotor Malaki, yakni dorongan dari malaikat yang disebut Malaikat Mulhim. Dorongan ini muncul bagi mereka yang sudah beriman dan berfungsi untuk mengajak berbuat amal saleh atau kebaikan. Dorongan inilah yang kita sebut sebagai Ilham, sesuai dengan firman Allah, “fa alhamaha fujuraha wa taqwaha.”

Ketiga, ada Khotor Setani, yang berasal dari Syaitan Waswasa. Ini adalah bisikan yang mendorong kita kepada perbuatan buruk, seperti mencuri atau berbuat zalim. Setan, yang dulu bernama Azazil, adalah makhluk yang sudah melihat surga dan neraka, namun tetap menentang Allah, menjadikannya musuh abadi yang selalu membisikkan keburukan.

Keempat, yang paling dekat dengan diri kita adalah Khotor Insani atau Nafs. Ini adalah keinginan yang muncul dari hawa nafsu kita sendiri, seperti hasrat untuk memiliki sesuatu. Nafsu ini yang kelak akan bertanggung jawab di hadapan Allah, bukan ruh, sehingga ia harus senantiasa dibimbing oleh akal dan syariat.

Lantas, bagaimana caranya mencapai Titik Temu Iradah Ilahi dan Khotor Insani? Ustadz Mulyani Taufiq menekankan bahwa titik temu ini tercapai ketika segala kehendak dan tindakan manusia diselaraskan serta berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Dalam konteks ibadah, perjumpaan antara kehendak Allah dan kehendak manusia ini disebut Khusyuk. Khusyuk bukanlah sekadar konsentrasi penuh, melainkan sebuah realisasi batin bahwa kita sedang menghadap dan akan berjumpa dengan Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah, salat itu terasa berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka (alladzina yadunnuna annahum mulaqu robbihim).

Oleh karena itu, kunci untuk mencapai khusyuk yang sejati dalam salat adalah dengan mengingat kematian. Ketika takbiratul ihram, hadirkan kesadaran bahwa ruh ini akan terbang dari raga. Dengan kesadaran tersebut, pikiran akan terlepas dari urusan utang, pekerjaan, dan hal duniawi lainnya, membuat salat menjadi ringan dan nikmat.

Semoga sisa umur kita, segala rezeki, dan rumah tangga yang kita jalani senantiasa mendapatkan berkah Allah SWT, serta dimampukan untuk menyelaraskan Khotor Insani kita dengan Iradah Ilahi demi menggapai husnul khatimah.

Sumber: Kajian Ahad Subuh Ustadz H. MULYANI TAUFIQ, M.HI di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya

E-Buletin