KabarMasjid.id, Malang – Pada Minggu malam, 4 Oktober 2025, Majelis ilmu rutin Ahad Ba’da Maghrib kembali digelar di Masjid Agung Jami Malang. Dipimpin K.H. Nur Hasanudin, kajian ini mengupas tuntas Kitab Mafahim Yajib An Tusahhah (Pemahaman-pemahaman yang Wajib Diluruskan), mengajak jamaah kembali pada esensi utama risalah Nabi Muhammad ﷺ: Akhlak.
Kajian diawali dengan pembahasan hadis yang sering menjadi perdebatan: “Jangan kalian memuji-muji aku sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Nabi Isa bin Maryam.” Dijelaskan bahwa larangan ini bukanlah menolak pujian secara total, melainkan peringatan keras agar umat tidak jatuh dalam sikap berlebihan (ghuluw) yang berujung pada pengkultusan yang salah, sebagaimana terjadi pada kaum sebelumya. Selain itu, Allah SWT sendiri memberikan contoh pemuliaan dengan tidak pernah memanggil Nabi Muhammad ﷺ di dalam Al-Qur’an menggunakan nama langsung, melainkan dengan gelar kenabian yang agung.
Inti dari risalah kenabian ditegaskan dengan sabda Rasulullah ﷺ: “Innama bu’ithtu li utammima makarimal akhlak.” Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Poin ini menegaskan bahwa akhlak adalah pondasi utama Islam, bukan sekadar pelengkap. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sayidatuna Aisyah ketika ditanya tentang akhlak beliau, beliau menjawab singkat dan padat: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”
K.H. Nur Hasanudin memaparkan nilai fantastis dari akhlak yang mulia. Dijelaskan bahwa seorang mukmin dengan akhlak yang baik dapat menyamai derajat ṣā’imul qā’im, yaitu pencapaian spiritual orang yang berpuasa sepanjang siang dan menunaikan qiyamul lail sepanjang malam. Hal ini menunjukkan bahwa kesempurnaan ibadah ritual sangat bergantung pada kualitas adab dan interaksi sosial.
Penerapan akhlak dimulai dari lingkaran terkecil. Nabi Muhammad ﷺ memberikan bimbingan untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga, terutama bagi seorang suami. Beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” Beliau juga menekankan pentingnya menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, membentuk tatanan masyarakat yang didasarkan pada kasih sayang dan penghormatan.
Salah satu aspek terpenting dari akhlak sosial yang dibahas secara mendalam adalah hubungan dengan tetangga. K.H. Nur Hasanudin menceritakan bahwa Malaikat Jibril terus-menerus memberikan wasiat kepada Rasulullah ﷺ tentang pentingnya memuliakan tetangga, hingga beliau merasa khawatir jika tetangga akan mendapatkan warisan. Hadis ini menyiratkan betapa krusialnya hak-hak tetangga dalam Islam, menempatkannya hampir setara dengan kerabat terdekat.
Bimbingan praktis mengenai akhlak kepada tetangga diberikan melalui contoh yang sederhana dan aplikatif. Rasulullah ﷺ bersabda, jika kita memasak makanan, perbanyaklah kuahnya agar dapat dibagikan kepada tetangga. Hikmah dari nasihat ini adalah memastikan tetangga turut merasakan rezeki yang kita peroleh, bahkan jika mereka hanya mendapatkan kuah (kaldu) dari masakan tersebut, bukan dagingnya.
Pemateri juga menggarisbawahi bagaimana standar “orang baik” (muhsin) ditentukan dalam Islam. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ukuran seseorang dikatakan baik bukanlah berdasarkan pandangan orang yang jauh, melainkan pengakuan dari tetangga terdekat. Jika tetangga mengatakan Anda baik, maka Anda benar-benar baik. Sebaliknya, jika tetangga menilai buruk, maka ia memang tidak baik, karena tetangga adalah saksi hidup dari perilaku sehari-hari kita.
K.H. Nur Hasanudin lantas menyeimbangkan bahasan dengan sikap tawadhu’ Nabi kepada umatnya. Pada akhirnya, pujian yang dibenarkan adalah pujian tulus yang tidak berlebihan, sebagaimana dicontohkan oleh Sahabat Hasan bin Tsabit dengan syairnya yang termasyhur. Poin ini penting, terutama di tengah maraknya fenomena di masyarakat yang justru senang mencela ulama dan orang saleh, sebuah perilaku yang justru melanggar etika adab dalam Islam.
Adapun pujian yang dibenarkan adalah pujian yang didasari kecintaan dan pengakuan atas kesempurnaan beliau, seperti yang dicontohkan oleh Sahabat Hasan bin Tsabit. Beliau adalah ahli syair yang memuji Nabi di hadapan beliau, dan Nabi mendengarkan serta mendiamkannya, yang berarti membolehkan. K.H. Nur Hasanudin kemudian mengutip dua bait syair Hasan bin Tsabit yang terkenal, yang memuji kesempurnaan fisik dan akhlak Nabi, seakan-akan beliau diciptakan sesuai keinginan beliau sendiri.
Menutup majelis, K.H. Nur Hasanudin berpesan agar umat Islam senantiasa menjauhi sikap saling membenci, terutama terhadap orang-orang saleh, sambil mengingat pentingnya berdekatan dengan mereka, bahkan dalam urusan makam (Idfanu mautakum fi quburish sholihin). Kajian ditutup dengan doa bersama, memohon syafaat Rasulullah ﷺ, kesehatan bagi jamaah yang sakit, istiqamah dalam kebaikan, dan diakhiri dengan harapan agar kelak diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Sumber: Kajian Rutin Ahad Ba’da Maghrib Kitab Mafahim Yajibu An Tushohhah Bersama KH. Nur Hasanudin di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang