KabarMasjid.id, Surabaya – Persatuan umat seringkali dihadapkan pada ujian berat di tengah perbedaan pendapat. Namun, Islam telah menetapkan fondasinya: setiap Muslim adalah cermin bagi saudaranya. Dalam Kajian Subuh yang dibawakan oleh Ustadz Achmad Jufri Ubaid, S.Ag. Pada Sabtu 4 Oktober 2025 di Masjid Al Falah Surabaya, mengambil tema “Seorang Muslim Itu Adalah Cermin Bagi Saudaranya” menjadi pengingat penting tentang adab-adab yang harus kita pegang teguh agar ukhuwah tidak mudah retak.
Landasan persaudaraan ini sangat kuat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Alm muslim akhul muslim” (Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya). Allah SWT sendiri menegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara (Innamal mukminuna ikhwah). Ikatan ini mewajibkan kita untuk saling menguatkan (yasyutu ba’duhu ba’don), memastikan barisan umat tetap kokoh dan tidak mudah terpecah belah oleh hasutan.
Fungsi seorang mukmin sebagai cermin (mir’atu akhih) sangat mulia. Ketika kita melihat aib atau kekurangan pada saudara, tugas kita bukanlah menyebarkannya atau menghakiminya, melainkan memperbaikinya (aslahahu). Cermin sejati menampakkan kekurangan agar bisa dibersihkan, bukan agar dipertontonkan. Kualitas keislaman kita tercermin dari bagaimana kita memperlakukan aib saudara kita.
Ustadz Achmad Jufri Ubaid juga menyoroti bahaya penyakit hati yang merusak persatuan, yaitu prasangka buruk (Iyakumadzon). Prasangka dinilai sebagai sedusta-dustanya perkataan (akzabul hadis). Selain itu, kita dilarang keras mencari-cari kesalahan (wala tajassasu) dan memata-matai (wala tahassasu) urusan pribadi saudara, hanya karena tidak satu bendera atau tidak sepaham.
Penyakit hati lain yang harus dihindari adalah saling membenci (wala tabagadu). Kebencian akan menciptakan bias: segala hal yang dilakukan oleh pihak yang dibenci akan selalu dipandang salah. Dalam interaksi sosial, kita juga harus menjaga etika Islam, seperti tidak menyerobot pinangan atau transaksi jual beli yang sedang dilakukan oleh saudara kita.
Ada peringatan keras yang harus dicamkan, khususnya bagi mereka yang berada di posisi strategis. Nabi ﷺ mengingatkan tentang nasib orang yang menjual informasi atau mengkhianati saudaranya sesama Muslim demi mendapatkan imbalan harta atau makanan. Balasan di akhirat bagi mereka yang melakukan pengkhianatan ini adalah makanan dan pakaian yang sama, namun berasal dari api neraka Jahanam.
Dalam konteks pergaulan sehari-hari, bahkan bercanda pun memiliki adab. Kita dilarang mengambil barang atau harta milik orang lain, termasuk hanya untuk niat main-main (laiban). Tindakan sepele seperti menyembunyikan tongkat atau kunci dapat menimbulkan kesulitan bagi saudara, dan ini bertentangan dengan semangat persaudaraan yang diajarkan Islam.
Khusus mengenai tawa, Ustadz Achmad Jufri Ubaid mengingatkan tentang larangan tertawa terbahak-bahak (La Tukthirid Dhohiq). Tawa yang berlebihan (qohqohatan) memiliki efek mematikan pada hati (tumitul qalb). Hati yang mati akan kehilangan kepekaan spiritual, tidak lagi tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an, dan tidak merespons panggilan Allah dengan baik.
Teladan terbaik dalam bersikap adalah Rasulullah ﷺ. Tawa beliau selalu proporsional (wasoton), tidak sampai terbahak-bahak yang berlebihan. Suara tawa Nabi hanya terdengar oleh orang-orang yang berada di dekat beliau saja. Ini menunjukkan bahwa humor yang sehat dan bijak adalah bagian dari adab Muslim.
Salah satu praktik persaudaraan yang paling mudah namun bernilai tinggi adalah senyum. Nabi ﷺ bersabda, “Tabassumuka liwajhi akhika shodqatun laka” (Senyummu kepada wajah saudaramu adalah sedekah bagimu). Senyum adalah cara paling sederhana dan efektif untuk menghadirkan kehangatan dan menumbuhkan ikatan ukhuwah.
Kesimpulannya, menjadi cermin bagi saudara adalah tugas mulia yang memerlukan pengendalian diri dan hati. Dengan menjauhi prasangka, berhenti mencari-cari aib, menjaga lisan, dan mengamalkan adab yang dicontohkan Rasulullah ﷺ, kita dapat mewujudkan persatuan sejati. Mari kita tingkatkan kualitas diri, karena kualitas keislaman kita tercermin dari bagaimana kita memperlakukan saudara kita.
Sumber: Kajian Ustadz ACHMAD JUFRI UBAID, S.Ag di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya