Batas Tipis Iman dan Kufur: Memahami Kondisi ‘Terpaksa’ dalam Tafsir Surah An-Nahl

Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir Oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi
Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir Oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Kajian tafsir Al-Qur’an menjadi sumber ilmu yang tak pernah kering, mendalami hukum, sejarah, dan hakikat keimanan. Dalam salah satu majelis yang diselenggarakan pada Sabtu 04 Oktober 2025 oleh Masjid Riyadh Solo. Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi mengupas tafsir Kitab Sofwatut Tafasir bagian Surah An-Nahl yang menyoroti ayat-ayat penting mengenai pembelaan Allah terhadap Rasulullah SAW sekaligus kategorisasi tegas antara orang beriman sejati dengan mereka yang keluar dari keimanan.

Diawali dengan pembahasan tentang fitnah dan tuduhan yang dilontarkan kaum musyrikin Makkah kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka menuduh Al-Qur’an sebagai karangan pribadi atau berasal dari ajaran orang lain. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bagaimana pembelaan dan bantahan langsung datang dari Allah SWT, menegaskan bahwa wahyu yang dibawa Rasulullah adalah kebenaran mutlak dari-Nya, bukan dari diri Nabi ataupun sahabatnya.

Beranjak dari konteks tersebut, pembahasan beralih kepada inti persoalan, yakni mengenai keimanan. Allah SWT kemudian membedakan secara gamblang antara orang-orang yang benar-benar teguh dalam iman dengan mereka yang terperosok ke dalam kekufuran atau kemurtadan, serta menjelaskan pengecualian yang berlaku pada kondisi darurat.

Untuk memahami kategori ini, dijelaskan mengenai sabab nuzul (sebab turunnya) ayat, yang berkaitan erat dengan peristiwa tragis yang dialami oleh sahabat Ammar bin Yasir. Bersama keluarganya, Ammar menjadi saksi sekaligus korban kekejaman dan siksaan tak berperikemanusiaan yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin di awal dakwah Islam di Makkah.

Penderitaan Ammar dan keluarganya menjadi ujian keimanan yang luar biasa berat. Siksaan kejam tersebut tidak hanya ditimpakan pada dirinya, melainkan juga pada kedua orang tuanya. Diketahui, ibunda Ammar, Sumayyah, dan ayahnya gugur di hadapannya sebagai syuhada pertama dalam sejarah Islam, meninggalkan luka mendalam bagi Ammar.

Tersiksa secara fisik dan mental, serta melihat orang-orang terkasih wafat, Ammar bin Yasir akhirnya tak kuasa menahan penderitaan tersebut. Dalam kondisi yang sangat terpaksa, ia mengucapkan kata-kata kekufuran yang diinginkan kaum musyrikin. Peristiwa ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan para sahabat, yang menduga Ammar telah berpaling dari Islam.

Merespons kondisi tersebut, turunlah ayat yang memberikan pengecualian hukum. Ayat tersebut menjelaskan bahwa siapa pun yang kufur setelah beriman, akan mendapat murka Allah. Kecuali mereka yang dipaksa mengucapkan kata kufur (mukrahan), sementara hatinya tetap penuh ketenangan dalam keimanan (wa qalbuhu muṭma’innun bil-īmān). Kondisi ini membela Ammar, yang secara lahiriah terpaksa, namun hatinya kokoh.

Pada forum Kajian tersebut Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi menegaskan bahwa murtad yang sebenarnya, yang berhak mendapat murka dan azab Allah, adalah orang yang tidak hanya mengucapkan kekufuran secara lisan atau perbuatan, tetapi juga orang yang hatinya menjadi lapang dan nyaman di dalam kekufuran tersebut (man syaraha bil kufri shodron).`

Adapun akar penyebab utama kemurtadan yaitu sifat mendahulukan kenikmatan duniawi (hayatad dunya) di atas janji kehidupan akhirat (akhirah). Mereka yang murtad memilih kenikmatan yang bersifat sementara dan menukarnya dengan kebahagiaan abadi yang ditawarkan oleh Allah SWT.

Bagi mereka yang memilih dunia dan benar-benar keluar dari keimanan, Allah SWT menjanjikan enam akibat buruk yang sangat fatal. Hal ini mencakup: mendapatkan murka Allah dan azab yang besar, lebih mementingkan dunia, diharamkan dari hidayah, hati serta panca indra (pendengaran dan penglihatan) dikunci, dan digolongkan sebagai orang-orang yang lalai (al-ghafilun).

Pelajaran moral dari kajian tafsir ini sangat relevan: setiap Muslim sejati seharusnya mendahulukan akhirat dalam segala tindakannya, seberat apa pun ujian di dunia. Kehati-hatian dalam mencari rezeki dan menjalani hidup perlu diutamakan agar tidak termasuk golongan yang menunjukkan sifat-sifat orang murtad, yaitu mereka yang tergiur dan tertipu oleh kenikmatan fana duniawi.

Sumber: Kajian Tafsir Kitab Sofwatuttafasir  Oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi di Channel Youtube  Masjid Riyadh Solo

E-Buletin