KabarMasjid.id , Surabaya – Setiap Muslim, sejak mengucap syahadat, telah menempatkan tauhid—kepercayaan kepada keesaan Allah—sebagai visi dan misi utama dalam hidupnya. Pentingnya menjaga akidah ini menjadi topik utama dalam kajian Mimbar Zuhur yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan pada Hari Kamis, 02 Oktober 2025. Beliau menekankan bahwa kalimat sakral Laa Ilaaha Illallah adalah pedoman fundamental, dan ketika tauhid ini tergerus oleh praktik syirik, dampaknya sangat merusak, bukan hanya terhadap spiritualitas, melainkan juga terhadap mentalitas dan martabat manusia.
Menurut Ustadz Nadjih Ihsan, syirik adalah kejahatan terbesar yang dilarang oleh Allah (a’zomu ma nahallahu anhu asyirik). Sebaliknya, sebesar-besar yang diperintah oleh Allah adalah bertauhid (a’zomu ma amarallahu bihi hua atauhid). Hal ini menunjukkan bahwa pondasi akidah lebih tinggi kedudukannya daripada amalan-amalan lain, seperti salat, puasa, atau sedekah. Jika akidah (tauhid) sudah rapuh, sebanyak apapun ibadah lain yang dilakukan, tidak akan memiliki arti yang sesungguhnya.
Salah satu kerusakan besar akibat syirik adalah Ihanatun li Karomatil Insan, yaitu merendahkan harkat dan martabat manusia. Saat seseorang berbuat syirik, ia secara tidak sadar menempatkan dirinya lebih rendah dari benda atau barang yang disekutukan. Sebagai contoh, ketika seseorang rela mengorbankan integritas, ilmu, dan hati nuraninya demi uang atau imbalan materi, maka uang tersebut menjadi lebih mulia dan berharga daripada dirinya sendiri.
Kerusakan ini juga terlihat ketika seseorang meyakini sebuah benda mati, seperti jimat atau lipatan kertas, dapat mendatangkan keselamatan atau melancarkan rezeki. Keyakinan tersebut secara implisit memuliakan benda itu di atas kemuliaan diri manusia yang diciptakan oleh Allah. Padahal, keselamatan dan rezeki hanya berada dalam wilayah hukum syariat dan ketetapan Allah, bukan pada hukum yang tidak berdasar atau khurafat.
Dampak negatif syirik yang kedua adalah mengubah akal pikiran menjadi Wikr al-Khurafat wal Abatil, atau sarang khurafat dan kebatilan. Ketika tauhid tidak diimplementasikan dengan benar, rasionalitas dan objektivitas akan hilang. Masyarakat menjadi mudah dipengaruhi oleh klenik dan tahayul yang sama sekali tidak mencerminkan peradaban tinggi dan pikiran modern.
Fenomena ini tampak dalam berbagai kepercayaan di masyarakat, seperti menghubungkan kelancaran karir dan rezeki dengan arah hadap rumah, atau keyakinan bahwa menikah pada bulan-bulan tertentu dapat mendatangkan nasib buruk (apes) atau malapetaka. Kepercayaan-kepercayaan semacam ini adalah contoh nyata dari pikiran yang telah dikotori oleh khurafat, menjauhkan diri dari prinsip-prinsip keimanan dan akal sehat.
Poin utama yang juga disorot adalah syirik merupakan sumber dari ketakutan, sikap pesimis, dan rasa putus asa yang merebak tanpa sebab yang jelas. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 151, “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang yang kafir rasa takut…” Rasa takut ini timbul karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak memiliki keterangan atau dasar hukum.
Ketakutan yang disebabkan syirik (asyirku fil khauf) adalah ketakutan kepada selain Allah, baik itu kepada yang gaib, jinn, berhala, bahkan kepada orang yang sudah meninggal. Contoh konkretnya adalah ketika seseorang merasa takut musibah akan menimpa keluarganya karena tidak “berpamitan” atau meminta izin kepada kerabat yang sudah wafat sebelum melangsungkan hajatan. Padahal, kewajiban kita terhadap orang yang sudah meninggal hanyalah mendoakannya, bukan menakutinya.
Sebaliknya, tauhid menciptakan pribadi yang dinamis dan optimis karena hanya menyandarkan ketakutan dan harapan kepada Allah semata. Seorang Muslim harus meyakini janji Allah: AlaisaAllahu bi Kafiin Abduhu (Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?). Dalam keadaan apapun, seorang bertauhid akan selalu memohon pertolongan kepada Allah, karena ia meyakini bahwa hanya setanlah yang menakut-nakuti manusia dengan sesembahan selain-Nya.
Untuk mempertahankan tauhid ini, Ustadz Nadjih Ihsan menegaskan bahwa memahami makna syahadat adalah wajib dan harus didahulukan di atas rukun Islam lainnya. Masyarakat bisa terjerumus ke dalam akidah yang sesat karena kebodohan (al-jahlu bil aqidati shahihah). Kebodohan ini disebabkan oleh dua hal: orang awam yang tidak mau belajar, dan orang alim yang tidak mau mengajar karena kesibukan duniawi.
Oleh karena itu, wajib bagi setiap Muslim untuk senantiasa menjaga akidah dan memperdalam pemahaman tauhid. Tauhid adalah kunci keamanan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagai penutup, mari pegang teguh firman-Nya: “Janganlah kamu takut kepada mereka, takutlah hanya kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 175). Hanya dengan meng-Esakan Allah, kita dapat melepaskan diri dari segala bentuk ketakutan dan keputusasaan yang tidak berdasar.
Sumber: Kajian MIMBAR DZUHUR 02 Oktober 2025 Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan di Channel Youtube Masjid Al Falah Surabaya Official