Memahami Albaid dan Illiyin: Tempat Perekaman Amal dan Berkumpulnya Arwah Orang Beriman

KH. DR. Faris Khoirul Anam di Kajian Ba'da Maghrib Masjid Jami' Malang
KH. DR. Faris Khoirul Anam di Kajian Ba'da Maghrib Masjid Jami' Malang

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang – Kehidupan setelah mati selalu menjadi misteri yang mendalam. Dalam kajian rutin Sabtu bada Maghrib 04 Oktober 2025, KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi, membedah tuntas rahasia alam barzakh, khususnya kondisi orang-orang yang beriman, merujuk pada kitab monumental Risalatu Ahlis Sunnahti Wal Jamaah karya Hadratus Syekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

KH. Faris Khoirul Anam mengungkapkan bahwa meskipun telah terpisah jasad, orang yang meninggal dunia—atas izin Allah—masih menerima kabar-kabar dari kerabat dan keluarga yang masih hidup. Mengutip riwayat dari Said bin Zubair R.A., apabila kabar itu baik, maka si mayit akan merasa bahagia dan gembira. Sebaliknya, kabar buruk akan membuatnya bersedih dan merengut.

Bahkan, arwah para mukmin dikumpulkan di sebuah bangunan khusus di langit ketujuh yang dinamakan Albaid. Ketika ada roh mukmin yang baru meninggal dunia, arwah-arwah yang lebih dahulu ada akan menyambutnya. Sambutan ini dilakukan dengan penuh kehangatan, di mana mereka akan bertanya tentang kabar-kabar dunia, layaknya menyambut orang yang baru pulang dari perjalanan jauh.

KH. Faris Khoirul Anam kemudian melanjutkan penjelasan dengan hadis panjang yang diriwayatkan dari Albarra bin Azib R.A., yang menguraikan secara rinci proses keluarnya roh. Saat seorang hamba mukmin menjelang akhir hayatnya, malaikat akan didatangkan dan menyeru dengan kalimat yang indah: “Ukhruji ayyatuhan nafsul mutmainnah ila magfiratin minallahi waridwan!”

Panggilan mulia kepada “Jiwa yang Tenang” (Nafsul Mutmainnah) tersebut menjadi penanda kemudahan. Dijelaskan bahwa roh orang mukmin akan keluar dari jasadnya dengan sangat mudah, ibarat tetesan air yang dituangkan—tanpa rasa sakit atau kesulitan. Ini adalah hadiah dari Allah bagi mereka yang sepanjang hidupnya melatih keridaan terhadap takdir.

Setelah roh keluar, menyusul turun para malaikat dari surga dengan wajah yang bercahaya seperti matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian (minyak wangi) khusus yang berasal dari surga. Para malaikat ini duduk di sekitar jasad si mayit, menyambut kehadiran roh yang suci itu sejauh mata memandang.

Roh kemudian dibawa naik melalui langit, melewati jutaan roh manusia yang telah mendahului. Uniknya, roh-roh yang sudah ada itu akan bertanya, “Roh apa ini?” Dan para malaikat akan menjawabnya dengan menyebutkan nama si mayit yang paling disukai. Ini menjadi isyarat kemuliaan sejak awal perjalanan.

Perjalanan roh ini mencapai puncaknya di langit ketujuh. Di sana, diperintahkan untuk mencatat catatan perbuatannya di sebuah tempat yang mulia bernama Illiyin. Dengan pencatatan amal ini, roh pun telah mendapatkan pengarsipan catatan kebaikan dan keridaan dari Allah SWT.

Setelah pencatatan selesai, turunlah perintah Ilahi: “Rudduhu ilal ardhi” (Kembalikan rohnya ke bumi). Roh pun dikembalikan ke jasad untuk menghadapi fase paling genting di alam kubur. Di sana, dua malaikat dengan bentakan yang keras (Munkar dan Nakir) akan menginterogasi dengan tiga pertanyaan kunci: Siapa Tuhanmu, Apa Agamamu, dan Siapa Nabimu.

Hamba mukmin akan menjawab dengan tegas dan lugas: “Tuhanku adalah Allah, Agamaku Islam, dan Beliau adalah Utusan Allah.” Mendengar jawaban yang mantap itu, terdengarlah suara dari langit: “Qod shodqo abdi” (Hambaku benar). Seketika, kuburnya diperluas dan diperlihatkan tempat tinggalnya di surga.

Keistimewaan belum berhenti, amal saleh si mayit kemudian dipermisalkan oleh Allah dalam wujud seorang laki-laki yang sangat tampan, harum baunya, dan indah pakaiannya. Ia adalah jelmaan dari ibadah dan ketaatan yang dilakukan semasa hidup. Lelaki itu menyampaikan kabar gembira atas ridanya Allah.

Melihat segala kenikmatan dan keindahan yang telah disiapkan di surga, serta kehadiran amal salehnya, sang hamba mukmin pun melontarkan permohonan yang menunjukkan kerinduannya. Ia berkata, “Ya Allah, segerakanlah Kiamat! Karena aku ingin segera kumpul dengan keluargaku [di surga].” Inilah cita-cita tertinggi, yakni sehidup sesurga bersama keluarga yang disatukan dalam keimanan.

Sumber: KAJIAN Ba’da Maghrib Bersama KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc,M.Hi di Channel Youtube Masjid Jami’ Malang

E-Buletin