Menguatkan Akidah, Merajut Ukhuwah: Fondasi Tunggal Persatuan Umat

Ustadz Drs. Nadjih Ihsan
Ustadz Drs. Nadjih Ihsan

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Umat Islam dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga keutuhan persaudaraan (ukhuwah) di tengah beragam perbedaan. Dalam kajian yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Nadjih Ihsan di Masjid Diponegoro pada Selasa 30 September 2025, beliau menegaskan bahwa menguatkan akidah (keyakinan) yang benar adalah satu-satunya kunci untuk mewujudkan persatuan sejati. Akidah bukan sekadar hafalan, melainkan pondasi hidup yang menentukan visi misi seorang muslim, yaitu visi misi akhirat.

Menurut Ustadz Nadjih, akidah adalah keyakinan yang mengikat seseorang tentang Allah, Rasul-Nya, Al-Qur’an, hingga hari akhir. Akidah yang benar haruslah bebas dari keraguan sedikit pun, bahkan terhadap hal-hal gaib seperti nikmat dan siksa kubur, serta kepastian hari kiamat. Keyakinan inilah yang mendorong seorang muslim untuk taat pada syariat, bukan hanya berserah diri karena keterpaksaan hukum alam.

Salah satu aspek krusial dalam akidah adalah iman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk. Ustadz Nadjih menjelaskan bahwa Allah memiliki Asmaul Husna, yang berarti semua nama dan sifat Allah adalah baik, dan semua perbuatan-Nya adalah benar. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh berprasangka buruk (suudzon) kepada Allah atas takdir yang menimpanya, karena sikap tersebut sama dengan menganggap ada cacat dalam sifat Allah.

Maka, setiap muslim diwajibkan untuk berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai (QS. Ali Imran: 103). Perpecahan tidak hanya terjadi karena perbedaan eksternal, tetapi juga karena hilangnya kesatuan akidah. Beliau menekankan bahwa akidah yang satu akan melahirkan jemaah yang satu, yang dijamin oleh Allah akan memiliki kesatuan gerak, visi, dan manhaj.

Namun, akidah ini rentan rusak. Ustadz Nadjih merinci beberapa sebab utama rusaknya akidah. Pertama adalah kebodohan akibat berpaling dari belajar. Kedua, fanatisme buta (ta’asub) terhadap tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan dalil agama. Ketiga, taklid buta yang hanya ikut-ikutan tanpa memahami dasar dalil.

Penyebab kerusakan akidah yang tidak kalah berbahaya adalah sikap berlebih-lebihan terhadap orang saleh dan wali, khususnya dengan meminta pertolongan kepada mereka saat berziarah kubur. Hal ini melanggar inti dari ibadah, yaitu hanya kepada Allah-lah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan (Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in) yang diulang lebih dari 30 kali setiap hari dalam shalat.

Selain itu, akidah juga rusak karena melalaikan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniah (alam) maupun syariah (Al-Qur’an dan Hadis). Mencemooh atau memprotes fenomena alam seperti banjir, misalnya, adalah bentuk ketidakrelaan terhadap ketetapan Allah yang menciptakan hukum-hukum di alam semesta.

Setelah fondasi akidah kokoh, umat Islam dapat mewujudkan ukhuwah sejati. Ustadz Nadjih membagi ukhuwah menjadi empat: ukhuwah basyariah (sesama manusia), ukhuwah wataniah (sesama warga negara), ukhuwah islamiah (sesama muslim), dan ukhuwah iqtisadiah (sesama dalam bidang ekonomi).

Khusus pada ukhuwah islamiah, beliau menegaskan bahwa perbedaan fikih—misalnya dalam jumlah rakaat tarawih—tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak menganggap orang lain sebagai saudara seiman. Umat Islam harus saling menguatkan ibarat sebuah bangunan (kalbunyan), di mana setiap komponennya (polisi, guru, pedagang, petani) penting dan saling menopang.

Prinsip dasar dalam menjaga ukhuwah adalah saling menolong dan tidak menganiaya, serta berkasih sayang dan menasihati. Namun, yang paling sering dilanggar adalah larangan saling mengolok-olok dan memanggil dengan gelar-gelar buruk (QS. Al-Hujurat: 11).

Ustadz Nadjih menutup kajiannya dengan peringatan keras dari Al-Qur’an: laki-laki maupun perempuan dilarang mengolok-olok kelompok lain, karena boleh jadi yang diolok-olok itu lebih baik di sisi Allah. Panggilan-panggilan buruk seperti “kadrun” atau “kampret” adalah perbuatan zalim yang merusak persaudaraan.

Intinya, persatuan umat tidak dapat diwujudkan hanya dengan kesamaan outer-look, tetapi harus dimulai dari kesatuan inner-look, yaitu akidah yang murni dan benar. Dengan akidah yang kuat, umat Islam akan mampu merangkul semua perbedaan di bawah naungan persaudaraan Islam.

Sumber: Kajian Masjid Diponegoro – Menguatkan Aqidah Mewujudkan Ukhuwah (Ustadz Drs. Nadjih Ihsan) di Channel Youtube Masjid Dipenogoro Surabaya

E-Buletin