Tangis Doa di Masjid Al Akbar: Ribuan Jemaah Gelar Shalat Ghaib untuk Santri Al-Khoziny

Sholat Ghoib Untuk Santri Korban Musibah Pesantren Al Khozini di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya
Sholat Ghoib Untuk Santri Korban Musibah Pesantren Al Khozini di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Sebuah pesan penghiburan mendalam disampaikan di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dalam Khutbah Jumat, 03 Oktober 2025. Di hadapan ribuan jemaah, Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, M.A., membawakan tema yang sangat menyentuh hati: “Para Syuhada’ Akhirat.” Khutbah ini hadir di tengah suasana duka nasional, bertujuan memberikan perspektif keimanan bagi mereka yang dilanda musibah.

Prof. Zahro membuka khutbah dengan menyoroti musibah berskala nasional yang baru saja terjadi di Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo. Peristiwa tragis ini telah merenggut nyawa tujuh orang yang dipastikan wafat, membuat 57 lainnya belum ditemukan (hilang), dan melukai 103 orang. Duka yang menyelimuti Jawa Timur ini menjadi latar belakang utama ceramah tersebut.

Prof. Dr. H. Ahmad Zahro

Sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan mendalam, usai pelaksanaan Shalat Jumat, di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya saat itu juga dilaksanakan Salat Gaib bagi para korban yang meninggal dunia dalam musibah tersebut. Tindakan khusyuk ini mengiringi empati mendalam Khatib, Prof. Zahro, yang secara khusus menyoroti “penderitaan batin” dan “harap-harap cemas” yang dialami oleh para wali santri selama menunggu kabar.

Dalam kondisi yang penuh kesedihan ini, Prof. Zahro menegaskan bahwa tujuan utama khutbahnya adalah untuk “menghibur orang tua wali santri.” Penghiburan ini diberikan melalui penjelasan ajaran Islam tentang kedudukan mulia para syuhada, yang harapannya dapat meringankan beban batin mereka.

Prof. Zahro menjelaskan bahwa dalam Islam, ada golongan umat Nabi Muhammad SAW yang meninggal bukan di medan perang, namun statusnya di sisi Allah adalah syahid. Golongan inilah yang disebut Syuhada’ Akhirat, dan pahala bagi mereka sangat istimewa: dijamin masuk surga bighairi hisab, atau tanpa perhitungan amal.

Berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW, Prof. Zahro merinci beberapa sebab kematian yang mengangkat derajat seseorang menjadi syahid akhirat. Kategori tersebut mencakup mereka yang wafat karena wabah penyakit seperti tha’un (atau yang relevan seperti COVID-19), wafat karena sakit perut, dan wafat karena tenggelam di air.

Selain itu, terdapat dua kategori yang secara langsung relevan dengan musibah di Sidoarjo. Kategori tersebut adalah orang yang wafat karena tertimpa reruntuhan bangunan dan yang wafat saat sedang menuntut ilmu (tholabul ilmi), sebab mereka adalah pejuang ilmu.

Dengan mengaitkan kategori-kategori tersebut, Khatib menyampaikan berita gembira kepada keluarga korban: “Putra-putra santri-santri yang wafat adalah status wafat syahid.” Kepastian ini didapatkan karena mereka meninggal akibat reruntuhan dan dalam kondisi menuntut ilmu di pesantren.

Selain jaminan surga tanpa hisab, keistimewaan syahid juga berlaku di alam Barzakh (alam kubur). Menurut Al-Qur’an, mereka yang mati syahid sesungguhnya tidaklah mati, melainkan hidup dan mendapatkan rezeki yang berlimpah dari Allah SWT. Hal ini menunjukkan kemuliaan yang tiada tara bagi mereka di sisi-Nya.

Sebagai penutup, Prof. Zahro mengingatkan jemaah bahwa modal utama hidup di dunia untuk keselamatan akhirat adalah akidah tauhid yang murni dan amal saleh. Beliau menekankan momen Mizan (timbangan amal), di mana selisih kebaikan atau keburukan, sekecil “seberat telur kutu,” dapat menentukan seseorang masuk surga (hisaban yasiron) atau neraka (hisaban syadida).

Oleh karena itu, jemaah diingatkan untuk selalu mengiringi perbuatan dosa dengan perbuatan baik (wa atbi’is sayyi’atal hasanata) agar timbangan amal baik lebih berat. Khutbah ditutup dengan doa agar semua umat Islam termasuk hamba Allah yang tidak merasakan siksa neraka dan dapat masuk surga, paling tidak dengan hisaban yasir.

Sumber: Channel Youtube Masjid Al Akbar TV

E-Buletin