KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam sesi Kajian Rabu Malam di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada 01 Oktober 2025, K.H. Muhammad Salhrehem, Lc., M.A.G., mengajak jamaah untuk mendalami karakter Rasulullah ﷺ melalui pembahasan Kitab Riyadhus Shalihin. Fokus kajian kali ini tertuju pada Bab ke-74, yang membahas tentang Al-Hilm (Santun), Al-Anah (Tenang), dan Ar-Rifq (Lemah Lembut)—tiga sifat mendasar yang harus dimiliki oleh setiap Muslim.
KH. Salhrehem menekankan bahwa sifat santun adalah benteng pertahanan umat Islam dalam menghadapi fitnah dan provokasi di lapangan. Ia menggarisbawahi landasan sifat ini dalam firman Allah SWT, Surah Al-A’raf ayat 199, yang menjadi peta jalan moral: “Khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa a’ridh ‘anil jahilin.”
Ayat tersebut memberikan tiga perintah berurutan. Pertama, jadilah pemaaf (Khudzil ‘afwa). Kedua, ajaklah orang lain pada kebaikan (Wa’mur bil ‘urfi)—maksudnya adalah meluruskan kesalahan dengan cara yang baik, bukan sekadar memaafkan. Dan yang ketiga, berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (Wa a’ridh ‘anil jahilin) jika mereka menolak nasihat yang disampaikan dengan tulus.
Untuk mengilustrasikan poin tersebut, beliau menceritakan kisah ikonik tentang seorang Arab Badui yang buang air kecil di pojok Masjid Nabawi. Para sahabat sontak marah besar dan hampir bertindak, namun Nabi Muhammad ﷺ segera menengahi.
“Tenanglah, wahai Umar,” kata Nabi dengan penuh Hilm kepada salah satu sahabat yang siap menghunus pedang. Nabi ﷺ justru meminta agar bekas kencing tersebut cukup disiram dengan seember air. Pelajaran utamanya, sebagaimana ditekankan Nabi, adalah: “Kalian diutus oleh Allah untuk memudahkan beragama, bukan untuk mempersulit.” Nabi memahami bahwa orang Badui itu bertindak atas dasar ketidaktahuan, bukan permusuhan.
Teladan Rifq yang paling menyentuh muncul dalam kisah dakwah Nabi ke Tha’if. Ketika Rasulullah ﷺ dilempari batu hingga kakinya berdarah, Malaikat Jibril datang bersama malaikat penjaga dua gunung, menawarkan untuk menghimpit penduduk Tha’if.
Namun, di puncak penderitaan itu, Nabi ﷺ menolak tawaran pembalasan. Beliau justru mengangkat tangan dan memanjatkan doa agung: “Allahumma ihdi qaumi fa innahum la ya’lamun,” yang artinya, “Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu.” Doa inilah yang menjadi puncak kelembutan seorang Nabi, yang mendahulukan harapan akan masa depan iman keturunan mereka daripada pembalasan dendam.
Contoh kelembutan lainnya adalah saat seorang pemuda datang kepada Nabi ﷺ meminta izin untuk berzina, sebuah perbuatan yang jelas-jelas dilarang. Alih-alih langsung menghukum, Nabi ﷺ justru mengajaknya berdialog, menanyakan apakah ia rela jika ibunya, saudara perempuannya, atau bibinya dizinai.
Pertanyaan-pertanyaan Nabi ﷺ yang menyentuh hati dan akal itu membuat pemuda tersebut terdiam dan emosinya tersentuh. Setelah pemuda itu menyatakan ketidakrelaannya, Nabi ﷺ meletakkan tangan di dada pemuda itu dan mendoakannya agar hati dan kemaluannya dijaga oleh Allah. Doa dan sentuhan personal Nabi ﷺ seketika mengubah hati pemuda tersebut, menjadikannya membenci perbuatan zina lebih dari apapun.
KH. Salhrehem menutup kajiannya dengan nasihat penting terkait praktik keagamaan kontemporer. Ia memperingatkan tentang bahaya mabuk beragama—semangat yang berlebihan hingga membuat seseorang mudah menyalah-nyalahkan, membid’ahkan, atau mengkafirkan sesama Muslim. Agama, tegas beliau, haruslah dimudahkan, dan ajakan pada kebaikan harus dilakukan dengan hikmah (bijak) dan mau’idhatul hasanah (nasihat yang baik). Sifat Hilm dan Rifq wajib dipraktikkan pertama kali di ranah pribadi: dalam rumah tangga, sebab kelembutan kepada pasangan, anak, dan orang tua adalah kunci ketenangan batin dan kekhusyukan ibadah.
Sumber : Kajian Rabu Malam K.H. Muhammad Salhrehem, Lc., M.A.G. di Channel Youube Masjid Al Akbar TV