Siroh Nabawi: Ustadz Ahmad Alhabsyi Bongkar Alasan di Balik Penolakan Mukjizat dan Hijrah ke Habasyah

Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi
Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Sejarah perjuangan Islam awal di Makkah adalah epik tentang penolakan sombong terhadap mukjizat dan keputusan heroik untuk berkorban. Dalam kajian Siroh Kitab Nurul Yaqin yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi pada Rabu, 02 Oktober 2025, kita diajak menelusuri babak krusial saat argumen gagal dan jalan hijrah ke Habasyah mulai terbuka.

Inilah kisah yang menggambarkan perjuangan awal umat Islam di Mekkah, sebuah periode yang penuh tekanan di mana penolakan terhadap kebenaran mencapai puncaknya. Dari Majelis Salaf Rouhah, dalam kajian Siroh Kitab Nurul Yaqin yang diadakan di Masjid Riyadh Solo, diuraikan bagaimana kaum musyrik Quraisy merespons dakwah Nabi Muhammad ﷺ, menandai transisi dari perang argumen menuju babak pengorbanan yang berujung pada peristiwa monumental, yakni hijrah pertama ke Habasyah.

Kaum musyrik, alih-alih beriman, justru memilih untuk berpaling saat Nabi ﷺ menunjukkan mukjizat besar dari Allah. Dengan kesombongan yang membangkang, mereka melabeli mukjizat itu sebagai “sihir yang terus-menerus” (sihrun mustamir) dan meminta lebih banyak tanda. Tujuan utama mereka meminta bukti-bukti tersebut bukanlah untuk mencari kebenaran, melainkan murni untuk menentang, membangkang (inadan), dan mempersulit Rasulullah ﷺ.

Tuntutan mereka pun menjadi semakin arogan dan mustahil untuk dipenuhi. Mereka meminta agar Nabi mampu memancarkan mata air dari bumi, memiliki kebun kurma dan anggur yang dialiri sungai deras, atau bahkan menjatuhkan langit berkeping-keping. Puncaknya, mereka meminta didatangkan Allah dan malaikat-malaikat secara berhadapan, atau setidaknya Nabi naik ke langit dan menurunkan sebuah kitab yang dapat mereka baca.

Allah Subhana Wa Ta’ala dengan hikmah-Nya tidak mengabulkan permintaan-permintaan mustahil tersebut. Alasannya jelas: Allah mengetahui isi hati mereka yang telah dipenuhi fanatisme dan pembangkangan yang keras kepala. Mukjizat tidak akan bermanfaat bagi mereka yang telah memutuskan untuk tidak beriman, sebagaimana umat-umat terdahulu yang mendustakan tanda-tanda Allah dan akhirnya dibinasakan, seperti kaum Ad dan Tsamud.

Sikap penolakan ini dipertegas dengan permintaan yang lebih mencengangkan. Daripada memohon petunjuk (hidayah) seandainya Al-Qur’an benar-benar dari sisi Allah, mereka justru meminta diturunkan hujan batu dari langit, atau agar Allah memberikan siksa yang pedih. Ini menunjukkan betapa kerasnya hati mereka dan betapa jauhnya mereka dari keinginan untuk menerima petunjuk.

Ketika kaum musyrik menyadari kelemahan mereka dalam berdebat atau melawan argumen Islam (bil burhan), mereka beralih ke strategi baru: kekuatan dan kekerasan (siasatil quwah). Siksaan terhadap kaum muslimin yang baru memeluk Islam ditingkatkan secara drastis, bertujuan untuk menghalangi umat Islam agar berhenti mengikuti Rasulullah ﷺ dan kembali kepada kekafiran.

Melihat siksaan yang tak tertahankan menimpa para sahabatnya, Nabi Muhammad ﷺ mengambil keputusan strategis. Beliau memerintahkan para sahabat yang tertindas untuk meninggalkan Makkah, bersabda, “Berpencarlah kalian di buminya Allah Subhana Wa Ta’ala, sesungguhnya Allah akan mengumpulkan kalian.” Ini adalah izin resmi pertama untuk meninggalkan tanah kelahiran demi mempertahankan akidah.

Ketika para sahabat bertanya mengenai arah hijrah, Nabi ﷺ mengisyaratkan ke negeri Habasyah (sekarang Ethiopia). Pilihan ini didasarkan pada penilaian Nabi terhadap karakter Raja Najasyi, seorang raja yang terkenal adil dan tidak akan menzalimi siapa pun yang berada di sisinya, menjadikannya tempat perlindungan yang aman dan jujur bagi kaum muslimin.

Peristiwa ini kemudian dicatat sebagai “Hijratu al-Habasyatil Ula” (Hijrah Pertama ke Habasyah), yang merupakan hijrah pertama dari Makkah. Rombongan kecil yang penuh keberanian ini terdiri dari 10 laki-laki dan 5 wanita. Di antara tokoh-tokoh penting yang ikut serta adalah Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ, serta Abu Salamah dan istrinya, Ummu Salamah.

Hijrah pertama ke Habasyah ini menjadi tonggak sejarah yang mengajarkan bahwa iman menuntut pengorbanan, bahkan hingga meninggalkan harta dan kampung halaman. Ia adalah strategi pelestarian akidah dari kehancuran fisik, sekaligus menjadi bukti kekukuhan para sahabat dalam menghadapi penentangan yang brutal demi tegaknya cahaya Islam.

Sumber: Kajian Siroh Kitab Nurul Yaqin oleh Ustadz Ahmad bin Muhammad Alhabsyi di Channel Youtube Masjid Riyadh Solo

E-Buletin