KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam sebuah kajian yang disampaikan oleh Ustaz H. Ahmad Muzakki Alhafidz dari Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya pada Senin 29 September 2025, dibahas mengenai empat pembagian waktu yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Daud AS, sebagaimana termaktub dalam Kitab Zabur. Konsep ini menjadi panduan bagi setiap individu yang berakal dan bijaksana untuk mencapai kehidupan yang lebih terarah dan bermakna.
Menurut Ustaz Muzakki, orang yang cerdas dan sempurna ilmunya tidak akan terlepas dari empat alokasi waktu. Yang pertama adalah waktu untuk bermunajat kepada Tuhan. Ini adalah momen intim di mana seseorang berzikir, membaca Al-Qur’an, dan merenungi kehidupannya. Waktu sepertiga malam terakhir disebutkan sebagai waktu yang paling utama untuk munajat, karena pada saat itu, suasana lebih tenang dan fokus spiritual bisa lebih mendalam.
Kedua, waktu untuk bermuhasabah atau mengoreksi diri sendiri. Setiap individu didorong untuk mencatat setiap amal dan gerakannya setiap hari, baik siang maupun malam. Tujuannya adalah agar seseorang lebih sibuk dengan introspeksi diri daripada mengoreksi orang lain. Di penghujung hari atau malam, muhasabah ini akan menuntun pada rasa syukur atas kebaikan yang telah dilakukan dan permohonan ampun atas segala kesalahan.
Ketiga, waktu untuk menjalin silaturahmi dengan saudara atau teman, khususnya untuk meminta masukan mengenai kekurangan diri. Ustaz Muzakki menekankan pentingnya sikap tulus dalam menerima kritik. Dengan mengetahui aib atau kekurangan dari orang lain, seseorang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, menjadikan ini sebagai langkah penting dalam pengembangan pribadi dan spiritual.
Keempat, waktu untuk menikmati dunia secara halal dan tidak berlebihan. Meskipun fokus pada ibadah dan introspeksi penting, manusia juga diizinkan untuk bersenang-senang dan menikmati karunia Allah. Contohnya seperti berjalan-jalan atau makan di luar, asalkan dalam batas kewajaran. Ini penting untuk menyegarkan pikiran dan menjaga keseimbangan hidup agar tidak terlalu “sepaneng” atau tegang.
Ustaz Muzakki juga menyoroti bahwa prioritas utama dari keempat pembagian waktu ini adalah bermunajat kepada Allah. Namun, ia mengingatkan bahwa hidup yang seimbang adalah kunci. Rasulullah SAW mengajarkan untuk menunaikan setiap hak, termasuk hak mata untuk tidur dan hak perut untuk makan, namun tidak secara berlebihan. Keseimbangan antara ibadah, bekerja, dan menikmati hidup adalah esensi dari ajaran ini.
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai ragam istigfar. Ustaz Muzakki menjelaskan bahwa ada banyak redaksi istigfar yang diajarkan Rasulullah SAW, mulai dari yang pendek seperti “astagfirullah” hingga yang paling mulia, yaitu Sayyidul Istigfar. Pemilihan redaksi istigfar bisa disesuaikan dengan waktu dan kondisi, namun esensinya tetap sama: memohon ampunan Allah atas segala dosa.
Pertanyaan lain membahas mengenai mendoakan non-muslim. Menurut Ustaz Muzakki, mendoakan non-muslim hanya diperbolehkan untuk memohon hidayah Islam. Doa-doa lain terkait rezeki, kesehatan, atau keselamatan tidak diperkenankan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW yang mendoakan kaum Thaif agar diberi petunjuk.
Kajian ini menegaskan bahwa kehidupan yang teratur dan seimbang adalah cerminan dari kebijaksanaan. Dengan mengaplikasikan pembagian waktu ala Nabi Daud, setiap Muslim diharapkan dapat menjalani hidup dengan lebih produktif, spiritual, dan harmonis, sembari terus berintrospeksi dan memperbaiki diri demi meraih husnul khatimah.
Sumber: KAJIAN KITAB NASHOIHUL IBAD edisi 29 September 2025 | Ust. H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Channel Youtube Masjid Al Akbar TV